LOUNCHING BUKU GURU LUMAJANG

Challenge Batch 3 level 2

Karya: Nurilatih

13 Nopember 2020, di SDN JOGOYUDAN 02 dilaksanakan lounching buku “Pandemi Membangunkan Mimpiku”. Acara ini dihadiri oleh ka Dindik kab Lumajang, Bpk. Drs. Agus Salim, M.Pd, KPP Lumajang Bpk. Hery Yulianto, M.Pd, Pengawas dan Kepala Sekolah SD kecamatan Lumajang, 19 Penulis buku NPMP, Dirut Gatra Lumajang Hamim T Majdi, Komite Sekolah dan Guru di sekolah ini.

Di awal, saya merasa underestimate ini bisa dihadiri Ka Dindik. Mengingat agenda beliau sangat padat. Ini bukan prestasi kejuaraan. Hanya sebuah acara lounching “Buku” karya menulis para guru dari jenjang TK, SD, SMP, SMK dan Perguruan Tinggi. Para guru, kepala sekolah, dosen dan pengawas.
Pandangan kecil arti sebuah cipta buku tak searti pandangan saya, karena menurut saya menulis adalah sebuah prestasi dalam memerangi dan mengalahkan sebuah adrenalin menuangkan pikiran melalui tulisan. #Merawat_Nalar

Menulis merupakan upaya untuk menyampaikan ide atau gagasan. Dari situlah perubahan-perubahan besar dapat dilakukan. Dari gagasan dalam sebuah tulisan, orang akan terinspirasi lalu termotivasi melakukan perubahan.

Menulis akan membuat kita hidup abadi. HB Yasin abadi dengan bukunya Gema Tanah Air, puisi “Aku” karangan Chairil Anwar. Meskipun mereka tiada tulisan itu tetap hidup di hati pembacanya.

Pemberian tugas guru kepada siswa tidak terlepas dari membaca dan menulis. Sebelum memberi tugas, guru wajib menguasai materi yang diberikan. Membaca adalah solusi paling sederhana. Jika ingin menulis belajarlah dari membaca. Jika ingin berbicara belajarlah dari mendengarkan. Selaras dengan tulisan Hamim T Majdi. Lihat link ini. https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2186902601441491&id=100003653161924

Guru wajib memberikan tauladan kepada siswa-siswinya. Jika guru malas menulis sama artinya dengan pengingkaran terhadap profesinya.

Tidak bisa dielakkan ketika memasuki Pandemi Covid-19, guru wajib membaca dan menulis. Sungguh Pandemi memotong retas zona nyaman para penikmat kemalasan, menjadikan mereka terbangun dari tidur panjangnya. Kalau tidak! Kehancuran akan datang.

Berikut adalah cuplikan dari Tirto ID tentang minat baca Indonesia. Duta Baca Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menyampaikan, Minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Dari 61 negara, Indonesia menempati urutan ke-60. (Mei 27, 2019).

Menulis itu menjadi penting dan wajib di kampanyekan. Bagaimana ketauladanan menulis dan membaca bukan sekedar menjadi kajian, tetapi benar-benar diwujudkan dalam sebuah karya.

Namun, ini adalah masalah berat. Harus ada niat mencari solusinya.

#Meretas_Masalah_dengan_Challenge

Lakukan terobosan untuk meninggalkan zona nyaman dalam kemalasan menulis. Salah satu cara untuk meretas kemalasan tersebut adalah mengikuti challenge atau menciptakan Challenge berhubungan dengan menulis.

Tidak mudah memang untuk mendobrak dan meninggalkan budaya malas membaca dan menulis. Namun, lupakan gangguan untuk mundur dari kegiatan menulis. Challenge apakah yang bisa memantik memotivasi kegiatan menulis ini? Lakukan pemberlakuan sebuah event menulis dengan tema bebas dan tema terikat seperti yang telah dilaksanakan oleh Rumah Media group. Lihat di Rumedia Nubar Bla

Pemberlakuan peraturan di dalam event menulis, dituangkan dalam SNK atau syarat dan ketentuan.

Dengan adanya challenge tersebut, jiwa menjadi hidup. Challenge memaksa mereka untuk berpikir, mengungkapkan ide dan berkarya dalam tulisan.

Dari Jalan satu ke Jalan berikutnya dan suatu ketika, tidak menutup kemungkinan mereka akan menghadapi kesulitan dalam menulis. Pada saat itulah mereka butuh apa yang namanya riset. Pada masa ini tidak sulit menemukan, mencari dan menghadapi permasalahan yang yang tidak kita temui penyelesaiannya. Cukup berselancar di dunia maya yaitu Google. Kita belajar dari sana. Sebagian bisa menjadi referensi, karena tidak semuanya benar. Ramu dengan ide, nalar dan tanggapan kita.

Di sinilah letaknya hubungan bahwa menulis berhubungan erat dengan membaca. Dengan berselancar baca atau dengan riset pada kenyataan sehari-hari di sekitar kita, kita akan temukan tema ataupun muncul ide untuk berkreasi dalam tulisan.

Karya yang telah dibuat akan menjadi jalinan komunikasi antara penulis dan pembaca. Sebuah tulisan akan tetap hidup dalam hati pembaca selama tulisan tersebut dibutuhkan.

Tidak salah jika dikatakan oleh Al Ghazali bahwa #Jika_kamu_bukan_anak_raja_dan_bukan_anak_ulama_besar_maka_menulislah

Berkaca dari inilah 19 penulis kabupaten Lumajang menjalin makna dalam sebuah buku antologi dengan judul “Pandemi Membangunkan Mimpiku”

Secara kronologi, buku tersebut merupakan puncak dari 10 buku yang dicipta oleh para guru siswa wali murid dan kepala sekolah di SDN JOGOYUDAN 02 Lumajang. “Harapan Tak Kan Pernah Terbang” penerbit Pustaka Mahameru. “Quote”, “Kristalisasi Rindu”, dan “Romansa Cinta” penerbit Litbang PRESSindo Yogyakarta. Yang lain terbit hasil mengikuti event menulis antara lain. “Selengkung Bulan”, “Asmaraloka Puisi Akrostik”, “Secangkir Kopi Rindu”, “68 Pentigraf Nusantara jilid 1 dan 2”, dan “Petualangan ke Negeri Satwa”

#Nubar
#NulisBareng
#Level2
#BerkreasiLewatAksara
#menulismengabadikankebaikan
#week2day3
#RNB002JABAR
#rumahmediagrup

Klik
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1804351616399489&id=100004740048392

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.