Insecurities and Imperfections

Naskah RNB Batch3 Week1day1

“Sebuah hubungan yang keren adalah dengan seseorang yang tahu semua kekurangan dan ketidak-sempurnaanmu, tetapi masih mencintai seperti apa adanya kamu”

Entah kapan kutipan yang aslinya berbahasa Inggris itu kusimpan di note hape, tetapi ketika saya membukanya kembali jadi teringatkan akan beberapa peristiwa ‘hebat’. Hebat dikarenakan pelan-pelan ternyata berhasil dengan baik, diiringi dengan bedo’a dan berpasrah diri kepada Allah. Pemberian solusi kepada teman yang mudah-mudahan saya pun terus bisa melakukannyan dikala situasi yang sama terjadi pada keluarga saya.

Bukan bermaksud mengobral curhatan seseorang, tetapi tulisan ini terinspirasi dengan kutipan diatas. Apapun keadaan orang terdekat kita atau kita sendiri setelah berada di titik terendah, hendaknya kita tetap menghargai dan memperlakukannya dengan baik sebagaimana mestinya.

Sekiranya si dia sedang terpuruk
keadaan emosionalnya karena imbas pandemik yang menjadikan terputus hubungan kerja, selayaknya kita orang terdekatnya yang bisa mendukungnya untuk tetap bersemangat menjalani kehidupan selanjutnya. Sebab ternyata emosional laki-laki jika sudah akan pensiun, post power syndrome, (masih mending punya kebanggaan diri sebagai pensiunan), apalagi korban PHK akan sensitif pol-polan (banget). Segala perlakuan istri jadi salah selalu, tak ada benarnya. Di sinilah peran dukungan moral dari istri tadi perlu sekali buat suami tetap merasa dibutuhkan.

Bersama-sama memulai yang baru dalam tatanan berkeluarga terdampak pandemik, menerima dengan legowo ketika pendapatan jauh drastis menurun karena pesangon tak seberapa juga hanya cukup untuk bertahan sebentar jika tak digunakan buat modal usaha.

Sampai di sini bingung pula, usaha apa kira-kira yang bisa dijalankan pak suami atau si istri sendiri sebab sedari awal tidak pernah mencoba berwiraswasta, atau ikuti arus pengguna sosial media untuk memiliki online shop. Beberapa pilihan peluang berusaha bisa dipelajari sambil berjalan dengan tentunya tak perlu takut gagal berlebihan. Namun tidak juga gegabah mengambil keputusan tanpa memperrimbangkan resikonya. Saya kira mengajak si dia berunding tentang usaha apa selanjutnya dalam suasana hati yang sedang baik dan suasana rumah kondusif, akan menghasilkan kesepakatan yang menyamankan kedua pihak.

pic: Pixabay

2 respons untuk ‘Insecurities and Imperfections

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.