MAULID NABI SEBAGAI UPAYA MENUMBUHKAN LITERASI BAGI AUD

Maulid Nabi adalah hari peringatan lahirnya Nabi Muhammad saw pada tanggal 12 robiul awal. Kata maulid itu sendiri berasal dari kata “milad” yang artinya hari kelahiran. Orang jawa biasa menyambut maulid nabi dengan sebutan “muludan” di Indonesia. Banyak cara yang dilakukan oleh berbagai orang muslim diberbagai daerah.

Inti acara Maulid Nabi lebih kepada memahami peristiwa kelahiran Rasulullah saw. untuk menghidupkan semangat juang dan persatuan umat Islam dalam menghadapi gempuran musuh. Dengan berbagai acara seperti pengajian umum, melakukan amal-amal kebajikan seperti bakti sosial, santunan kepada fakir miskin, pameran produk Islam, pentas seni dan kegiatan lain yang lebih menyentuh persoalan masyarakat. Ternyata fenomena tradisi maulid Nabi SAW itu tidak hanya ada di Indonesia, tapi merata di hampir semua belahan dunia Islam.

Di zaman Rasulullah dan al khulafa’ ar-rrosyidin perayaan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW belum pernah dikenal. Rasulullah mengenang hari kelahirannya dengan puasa. Sesuai pertanyaan sahabat kepada Rosul, “ Kenapa Engkau puasa pada hari Senen yaa Rasul ?” Rasulullah menjawab, “ Pada hari itu aku dilahirkan dan pada hari itu aku diturnkan alquran.”

Terkait dengan Anak Usia Dini (AUD), peringatan Maulid Nabi ini secara langsung maupun tidak langsung melibatkan AUD. Secara peringatan ini merupakan hari libur nasional, dimana AUD yang mulai memasuki jenjang sekolah pasti akan ikut libur dan ditambah pula dengan kegiatan kegiatan Maulid Nabi yang begitu meriah sehingga menimbulkan pengalaman tersendiri bagi AUD. Pengalaman yang dirasakan oleh AUD ini bisa menjadi sebuah pembelajaran tersendiri.

Belajar merupakan suatu proses perubahan  tingkah  laku  sebagai  hasil interaksi individu  dengan lingkungannya dalam  memenuhi  kebutuhan  hidupnya. Sehingga interaksi AUD dengan kegiatan-kegiatan Maulid Nabi akan membuat AUD memahami kisah Nabi Muhammad berikut keteladanannya yang akan membantu pembentukan sikap dan karakter positif AUD.

Dalam kaitannya dengan literasi untuk AUD, literasi meliputi kemampuan dasar untuk membaca, menulis, mendengar, memahami, hingga keterampilan proses yang lebih tinggi dimana pebelajar mampu untu memutuskan, menginterpretasi, memonitor, dan mengelaborasi apa yang sudah dipelajarinya.

Sekarang ini literasi memiliki arti luas, sehingga keberaksaraan  bukan  lagi  bermakna  tunggal melainkan  mengandung  beragam  arti  (multi literacies). Ada bermacam-macam keberaksaraan atau literasi, misalnya literasi komputer (computer literacy), literacy media (media literacy),  literacy teknologi (technology literacy), literacy ekonomi (economy literacy), literacy informasi (information literacy), bahkan ada literacy moral (moral literacy).

 Literasi  dapat  dikatakan  sebagai  suatu kecakapan hidup. Praktik pendidikan perlu menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran  agar  semua  warganya  tumbuh  sebagai pembelajar  sepanjang  hayat.  Untuk  mendukungnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS  memperkuat  gerakan  penumbuhan  budi  pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015.

Sesuai Peraturan tersebut, maka tujuan umum GLS adalah Menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Salah satu kegiatan Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti di Sekolah yaitu melalui pembiasaan-pembiasaan seperti Menumbuhkembangkan Nilai-nilai Moral dan Spiritual. Contoh-contoh pembiasaan periodic antara lain membiasakan perayaan Hari Besar Keagamaan dengan kegiatan yang Sederhana dan hikmat. Sehingga Perayaan hari besar keagamaan ini seperti Maulid Nabi merupakan ajang untuk menumbuhkan literasi AUD.

Pendidikan literasi mempunyai tiga tahapan yaitu tiga R, yakni Responding, Revising, dan Reflecting (Kern, 2000). Terkait dengan peringatan Maulid Nabi, maka Responding ini melibatkan pihak AUD yang mengikuti peringatan Maulid Nabi tersebut dengan Orangtua/Gurusebagai pendamping dalam menginterpretasikan pengalaman ini. Revision yang dimaksud ini mencakup berbagai aktivitas berbahasa. Misalnya, dalam menyimak kisah Nabi. Reflecting berkenaan dengan evaluasi terhadap apa yang sudah dilakukan, apa yang dilihat, dan apa yang dirasakan ketika  pembelajaran  dilaksanakan.

 Selain itu, dalam peringatan Maulid Nabi ini sudah sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan literasi menurut Kern (2000) ada tujuh yaitu :

a.  Literasi melibatkan interpretasi

b. Literasi melibatkan kolaborasi

c.  Literasi melibatkan konvensi, dalam hal ini AUD menyimak apa yang disampaikan melalui kisah Nabi

d. Literasi melibatkan pengetahuan cultural, AUD menyimak  sistem-sistem sikap, keyakinan, kebiasaan, cita-cita, dan nilai tertentu,

e.  Literasi melibatkan pemecahan masalah.

Literasi melibatkan pemecahan masalah. Karena kata-kata selalu melekat pada konteks  linguistik  dan  situasi  yang melingkupinya, maka tindak menyimak, berbicara, membaca, dan menulis itu melibatkan  upaya  membayangkan hubungan-hubungan di antara kata-kata, frase-frase,  kalimat-kalimat,  unit-unit makna, teks-teks, dan dunia-dunia. Upaya membayangkan/  memikirkan/mempertimbangkan ini merupakan suatu bentuk pemecahan masalah.

f.  Literasi melibatkan refleksi dan refleksi diri.

Pembaca/pendengar dan penulis/pembicara memikirkan  bahasa  dan  hubungan-hubungannya dengan dunia dan diri mereka sendiri. Setelah mereka berada dalam situasi komunikasi mereka memikirkan apa yang telah mereka katakan, bagaimana mengatakannya, dan mengapa mengatakan hal tersebut.

g. Literasi melibatkan penggunaan bahasa.

Literasi tidaklah sebatas pada sistem-sistem bahasa  (lisan/tertulis)  melainkan mensyaratkan  pengetahuan  tentang bagaimana bahasa itu digunakan baik dalam konteks lisan maupun tertulis untuk menciptakan sebuah wacana/diskursus.

Jadi, terlepas dari kontroversi perlu tidaknya diadakan peringatan maulid nabi, kita perlu mengingat bahwa sekarang ini kaum muslimin krisis keteladanan dan derasnya informasi dan tayangan di media, sehingga kaum muslimin harus mencontoh dan menteladani kehidupan Rasulullah SAW dari berbagai aspeknya. Salam Literasi!

rumediagrup/nurfitriagustin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.