Pelangi di Matamu (Bagian 5)

Pagi nan cerah, semilir udara memberikan kesejukan di rongga dada. Menambahkan suasana hati begitu tenang. Sebentar lagi aku akan bertemu dengan anak semata wayangku, lirih Inem. Segala kerinduan dan kasih sayangnya akan tercurah sebentar lagi.

Tak sabar Inem menanti cahaya mentari bangun dari tidurnya. Bergegas ia merapikan rumah dan kamar Hasan. Selepas subuh ia pergi ke pasar, membeli bahan makanan.

Aku akan masak istimewa hari ini, gumamnya dalam hati. Jarang sekali ia masak daging, paling juga setahun sekali. Itu pun kalau kebagian jatah daging kurban di hari raya Idul Adha. Namun, hari ini ia paksakan untuk masak tak masalah sesekali saja.

Paijo turut bahagia mendengar kabar Hasan akan keluar dari jeruji besi itu. Ia hanya mengiyakan saja ketika Inem akan memasak makanan istimewa. Bagi mereka makan daging itu sangat luar biasa.

Cahaya mentari mulai menghangatkan tubuh. Inem dan Paijo bergegas ke rumah Marni. Ia harus menyusul, jangan sampai tempayan menghampiri gayung. Kita yang membutuhkan, jadi harus memohon dan meminta putra Bu Marni menjadi saksi kejadian itu.

Dengan suka cita dan penuh harap rombongan Paijo memasuki halaman kantor polisi. Ia menghampiri dan menceritakan keperluan mereka. Iwan anak Bu Marni dan dua saksi warga yang kebetulan ada di TKP bersedia turut menjadi saksi peristiwa tempo hari itu.

Akhirnya Hasan bebas dari jeruji besi nan pengap, bersyukur tidak sampai sepekan ia di sana. Dengan wajah ceria dan pelukan kasih, Inem menyambut hangat Hasan sang anak semata wayang.

Selepas keluar dari jeruji besi, Hasan dan kedua orang tuanya mendatangi sekolah dan menjelaskan semua yang terjadi. Alhamdulillah ia masih bisa ikut Ujian Nasional. Tak putus-putus Hasan dan orang tua memanjatkan syukur ke hadirat Allah SWT.

Kini mega mendung di pelupuk mata Inem sudah tersapu sang raja kelana. Kembali cerah sorot matanya, hujan air mata telah berlalu, tampak indah pelangi di matamu. “Rabbi habli minash shalihin” semakin yakin ia dengan doa yang kerap ia panjatkan “Wahai Rabbku, berilah aku keturunan yang shalih.”

Kehidupan tak selamanya duka, ia akan berganti layaknya roda berputar kadang di atas, kadang di bawah. kayuh sepeda harus terus bergerak, agar roda mampu berputar dan kita pun tak terjatuh. Untuk itu, teruslah bergerak. walaupun di bawah atau di atas, jatuh bangun dalam kehidupan itu sudah biasa.

Allah akan memberi ujian kepada masing-masing hamba sesuai dengan porsinya.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Hasan pun lulus dengan nilai cukup baik, ia mampu mengalahkan nafsu dan berdamai dengan hatinya. Setelah lulus, ia mulai merintis dan membuka lembaran baru dengan ikut bekerja bersama Iwan putra Bu Marni.

T A M AT

rumahmediagrup/suratmihamasah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.