AMR BIN JAMUH (“Aku Ingin Menginjakkan Kakiku yang Pincang Ini di Surga”)

“Aku Ingin Menginjakkan Kakiku yang Pincang Ini di Surga”

Amr Bin Jamuh adalah seorang ayah dari Muadz bin Amr yang terlebih dahulu masuk Islam dan sudah ikut dalam Baiat Aqabah kedua. Amr bin Jumah termasuk pembesar kota Madinah dan pemimpin bani Salamah. Anaknya yang bernama Muadz bin Amr sudah terlebih dahulu masuk Islam bersama rekannya bernama Muadz bin Jabal. Mereka adalah dua penduduk muslim yang menyebarkan Islam di kalangan penduduk Madinah dengan semangat tinggi dan berani.

Sebagai salah satu pembesar kota Madinah, sudah menjadi kebiasaan Amr bin Jamuh dan pembesar lain membuat patung-patung tuhan berukuran kecil, diletakkan dirumahnya yang diberi nama Manaf. Muadz bin Amr dan Muadz bin Jabal sepakat akan mengambil patung ayahnya pada malam hari lalu patung tersebut akan dibuangnya.

Esok harinya saat bangun tidur, Amr bin Jamuh tidak mendapati Manaf  di tempatnya lalu ia mencari dan menemukan patung tersebut di tempat sampah. Amr sangat murka, lalu memarahi anak dan rekannya.

Di malam selanjutnya, dua pemuda itu melakukan tindakan yang sama. Sehingga Amr merasa putus asa, kemudian ia meletakkan pedang di leher patung Manaf dan berbicara kepada patung itu, “Jika engkau membawa kebaikkan, lindungilah dirimu.”

Keesokan harinya, Amr tidak menemukan patung Manaf di tempatnya tetapi terdapat di tempat sampah. Hanya, kali ini patung itu terikat kuat pada bangkai anjing, ia sangat kecewa dan marah.

Beberapa pembesar Madinah yang sudah masuk Islam menghampirinya sambil menunjuk kepada berhala yang tidak berdaya dan terikat. Mereka mengajak Amr bin Jamuh berpikir rasional dan menggunakan hati nurani tentang Tuhan yang sebenarnya.

Pembesar Muslim juga menjelaskan tentang Muhammad SAW. Orang yang jujur  dan terpercaya, datang untuk memberi bukan meminta; untuk membimbing bukan untuk menyesatkan dan tentang agama Islam yang datang untuk membebaskan manusia.

Dalam beberapa saat, Amr telah menemukan jadi dirinya lalu ia berpamitan hendak membersihkan badan, pakaian, dan memakai wewangian. Selepas itu ia merasakan bahagia dengan wajah ceria dan berseri-seri serta senyum merekah, ia berangkat untuk berbaiat kepada Nabi dan bergabung dalam barisan kaum beriman.

***

Amr bin Jamuh telah menyerahkan hati dan hidupnya hanya kepada Allah SWT. Ia seorang yang dermawan, semua harta dan kekayaannya diserahkan untuk kepentingan Islam dan rekan seperjuangan. Amr kerap memberikan harta kepada setiap orang yang memintanya. Karena kedermawanannya itu, Amr direkomendasikan oleh Rasulullah sebagai pemimpin dan ia yakin bahwa Allah akan melipatgandakan harta yang telah ia berikan.

Selain harta ia pun ingin mendermakan jiwa dan kehidupannya di jalan Allah. Namun, satu kakinya pincang menyebabkannya tidak boleh ikut perang. Amr memiliki empat anak semua telah masuk Islam, mereka pemberani bagai singa, gigih, dan gagah berani serta tidak pernah absen dari peperangan bersama Rasulullah.

Ketika perang Badar, Amr sudah siap-siap untuk berperang. Namun, anak-anaknya memohon kepada Rasulullah untuk menjelaskan kepada sang ayah agar ia tidak ikut berperang. Jika Amr memaksa, mereka memohon agar Rasulullah membuat larangan bagi sang ayah berperang.

Kemudian Rasulullah menjelaskan bahwa Islam membebaskan Amr dari kewajiban berjihad karena kakinya pincang. Akan tetapi, Amr bersikeras ikut berjihad. Akhirnya Rasulullah memerintahkan Amr untuk berdiam diri di Madinah tidak ikut berjihad, dan bagi muslim yang taat perintah Nabi adalah satu ibadah.

***

Tatkala kaum Muslimin bersiap untuk perang Uhud, Amr menghadap Nabi meminta diikutsertakan dalam perang. Namun, anak-anaknya tetap menghalangi. Lalu Amr mengatakan bahwa ia ingin menginjakkan kakinya yang pincang di surga.

Amr terus memaksa, akhirnya Nabi membolehkannya ikut berperang. Dengan suara mengiba ia memohon kepada Allah, agar diberikan kesyahidan dan jangan dikembalikan kepada keluarganya. Perang pun belangsung, ia menghadap ke langit seakan ia mencari malaikat yang datang menjemput dan membawanya ke Surga.

Amr sangat rindu untuk menginjakkan kakinya yang pincang di Surga agar para penduduk surga tahu bahwa Muhammad Rasulullah  SAW tidak salah memilih sahabat dan mendidiknya. Apa yang ditunggu-tunggunya telah datang, satu tebasan pedang mengenainya hingga ia gugur sebagai syahid.

Ketika kaum muslimin akan menguburkan Amr bin Jamuh, Rasulullah memerintahkan agar Amr dikuburkan dalam satu liang dengan Abdullah bin Amr bin Haram karena mereka dua sahabat yang saling menyayangi dan setia.

***

Empat puluh tahun kemudian, terjadi banjir yang menenggelamkan tanah pemakaman perang Uhud disebabkan proyek aliran irigasi yang dilakukan pemerintah Mu’awiyah. Namun, ketika jasad para syuhada akan dipindahkan, mereka mendapati kejadian luar biasa. Jasad para Syuhada masih utuh dan lembut, mereka seperti sedang tertidur dengan senyum kemenangan menyambut datangnya kesyahidan.

Resume diambil dari buku 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW dengan Pengantar Muhammad Khalid Tsabit Putra Penulis Khalid Muhammad Khalid

Khalid, Khalid Muhammad. 2013. 60 Sirah Sahabat Rasulullah SAW. Jakarta: Al-I’tishom

rumahmediagrup/suratmihamasah

2 respons untuk ‘AMR BIN JAMUH (“Aku Ingin Menginjakkan Kakiku yang Pincang Ini di Surga”)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.