Pelangi di Matamu (Bagian 3)

“Saya, Rahmi Bu,” sahut tamu perempuan itu.
“Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu? tanya Inem sedikit penasaran.
“Ini Bu, saya hanya menyampaikan surat dari sekolah,” Rahmi menyodorkan amplop putih.

Dengan sedikit gemetaran Inem meraih amplop itu.
“Ini surat apa Bu Rahmi?” tanya Inem lagi
“Surat pemberitahuan Bu, kalau Hasan hampir sepekan tidak masuk sekolah,” sahut Rahmi.
“Astagfirullah, Hasan, Hasan. Kamu tega bohongi ibumu,” ratap Inem sambil menyeka air matanya yang mulai mengalir deras.

Laksana musim hujan, hampir setiap hari mata Bu Inem basah. Air matanya kian deras membanjiri pipi, netranya terlihat bengkak dan merah.
“Bu, maafkan anak saya. Sudah sering merepotkan ibu. Nanti akan saya sampaikan ke Hasan,” jelas Inem dengan hati pilu.

Selepas Bu Rahmi pulang, Inem sangat gelisah. Ia mondar-mandir sambil melongo keluar menantikan kepulangan Hasan. Sudah empat jam, Inem menantinya.
“Tok …, Tok …, suara pintu diketuk. Segera Inem menghampiri pintu lalu dibukanya.

Sungguh kaget Inem melihat pemandangan di depan mata. Hasan pulang dengan wajah babak belur. Inem panik, ia melihat Hasan dibopong oleh Pak RT dengan kondisi tidak karuan. Rupanya ia baru saja dikeroyok karena kedapatan mengambil kotak amal di musala kampung sebelah. Penduduk kampung sebelah menghajar habis Hasan yang tadinya melawan. Akhirnya ia menjadi bulan-bulanan warga kampung sebelah.

“Ya Allah Nak, Nak. Kamu kenapa lagi ini? Belum bosan kamu menyakiti hati ibumu. Lihat wajahmu penuh darah. Untung saja warga sebelah tidak melaporkan kamu ke kantor polisi?” panjang lebar Inem menyesali apa yang telah terjadi.

“Sudahlah, berisik bu. Wajah dan badanku sakit. Bukannya diobati, malah diceramahi,” hardik Hasan dengan intonasi Tinggi. Belum sadar juga, dengan apa yang menimpanya. Masih kasar dan keras hatinya, tak pernah ia berlemah lembut terhadap ibunya.

Kerap ia mengumpat dan sumpah serapah, ia menyalahkan kedua orang tuanya mengapa dilahirkan dari orang tua yang susah dan miskin.

“Assalamu’alaikum,” terdengar suara parau dari luar. Rupanya Paijo baru pulang dari berkeliling mencari nafkah.
“Waalaikumussalam,” sahut Inem dari dalam. Bergegas Inem mengambilkan air bening untuk suaminya.

“Alhamdulillah, bapak sudah pulang?” tanya Inem sambil mencium tangan Paijo.
“Iya bu, hari ini panas sekali, Alhamdulillah aku mendapatkan rezeki lebih. Hari ini, banyak yang mencukur rambut” dengan sumringah Paijo bercerita. Sambil duduk di kursi kayu dan mengipas-ngipaskan handuk kecil yang sering melingkar di lehernya.

“Hasan mana Bu? Ia sudah pulang sekolah belum? tanya Paijo teringat anak semata wayangnya.
“Hmm … sudah Pak,” jawab Inem terlihat gugup.
“Tenang Bu, besok SPP Hasan sudah bisa dilunasi. Digabungkan dengan uang celengan,” cerita Paijo dengan tenang.

“Iya Pak,” jawab Inem singkat. Ia tak sanggup menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata Paijo merasakan ada yang aneh dengan sikap Inem. Paijo hafal banget sikap dan tingkah laku istrinya. Jika istrinya sedang mempunyai masalah. Pasti Paijo merasakannya.

“Kenapa Bu, kamu terlihat gelisah, berceritalah,” pinta Paijo terhadap istrinya. Inem diam sejenak, ia khawatir suaminya marah mendengar apa yang telah menimpa Hasan.
“Begini Pak, tadi siang ada tamu dari sekolah mengantarkan surat pemberitahuan,” ungkap Inem.
“Terus, ada keperluan apa?” tanya Paijo
“Anu Pak, Hasan,” belum selesai berkata Paijo langsung menyambar lagi dengan pertanyaan.
“Anu apa Bu?” potong Paijo.
“Itu Pak, Hasan,” Inem terdiam. Ia bingung menjelaskan semua peristiwa hari ini,  tetapi dia tak sanggup melanjutkan ceritanya. Ia belum berani menjelaskan kalau Hasan sudah sepekan tidak masuk sekolah.

Dengan hati-hati Inem melanjutkan cerita.
“Hasan Pak, Hasan sudah sepekan tidak masuk sekolah,” sahut Inem nyaris tak terdengar.
“Hah, apa Bu? Apakah aku enggak salah mendengar? Kenapa Hasan tidak masuk sekolah? Padahal setiap hari ia meminta ongkos untuk sekolah. Bahkan hampir tiap hari kita kasih sangu buat dia sekolah. Sekarang, Hasannya mana? Ternyata selama ini ia berbohong,” jelas Paijo. Inem tak sanggup melanjutkan ceritanya, ia terdiam dengan hati pilu. Tak sanggup ia membantah ucapan suaminya. Perasaan bersalah tertuju padanya, ia tidak bisa mendidik anaknya. 

Anak semata wayang yang diidam-idamkan sejak lama, kini menjadi anak remaja yang berakhlak buruk. Inem menyalahkan dirinya, tak mampu mendidik Hasan. Kembali Inem menangis, ia tak mampu berbuat banyak. Berulang-ulang ia membacakan doa Nabi Ibrahim ketika menantikan seorang putra.

“Rabbi habli minassholihin,” berulang-ulang Inem membacakan doa sambil mengusap dadanya.

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk
orang-orang yang sholeh” tak pernah kering mulut Inem membacakan doa tersebut.

Mendengar penjelasan Inem, Paijo sungguh geram. Apalagi mendengar bahwa Hasan mencuri kotak amal di musala kampung sebelah. Paijo kalap, ia menambahkan tamparan dan pukulan ke wajah Hasan yang babak belur. Inem menahan perlakuan Paijo dengan sekuat tenaga, ia menjerit dan berteriak-teriak memisahkan kedua lelaki kesayangannya.

Selepas peristiwa kemarin, Hasan mulai mengurangi kegiatan keluar rumah. Ia berdiam diri di kamar. Ia merenungi apa yang terjadi. Paijo yang kalap, menghantam Hasan beberapa kali. Hasan sudah tak bisa melawan, karena luka dan memar bekas keroyokan masih terasa sakit dan perih. Lalu ditambahkan dengan pukulan dan tendangan ayahnya. Membuat Hasan tak berdaya.

Kini Hasan terbaring lemah di atas dipan keras, sehingga sakitnya kian bertambah. Antara benci dan sedih, ia meratapi hidup yang tak pernah bahagia menurutnya. Paijo selama ini tak pernah memukul, ia selalu menahan amarahnya karena kerap dilarang oleh Inem. Akhirnya ia menghabiskan semua kekesalan yang dipendam hingga ia merasa capai sendiri.

Paijo duduk bersimpuh, ia menyesali atas perlakuannya kepada Hasan, sesungguhnya tak ingin ia melakukan kekerasan seperti itu. Namun, kini amarahnya tak bisa dipendam lagi kelakukan Hasan sudah termasuk kriminal. Untuk itu ia harus memberikan pelajaran. Setelah kekerasan itu, Paijo meminta maaf dan memberikan nasihat agar Hasan tak mengulangi lagi.

Esok harinya, Hasan dibawa Inem ke klinik. Inem tidak tega dengan kondisi Hasan seperti itu. Bagaimanapun ia anak kandungnya, yang selama ini dinanti-nanti. Dengan telaten Inem merawat Hasan dan mengenang 15 tahun ke belakang. Ia merasakan sakit saat mengandung dan melahirkan. Mungkin ini ujian untuknya, untuk selalu bersyukur. 

***

Beberapa hari Hasan tidak masuk sekolah, Inem melaporkan semua yang terjadi. Air matanya kian deras, saat pihak sekolah mengatakan jika Hasan sudah tidak diperbolehkan masuk. Harapannya untuk mengubah nasib keluarga kian menipis. Jika putus sekolah, apa yang akan ia lakukan? Ijazah tak punya, apalagi kompetensi.

Inem dan Hasan kembali ke sekolah. memohon untuk diberikan kesempatan sekali lagi. Jangan sampai putranya dikeluarkan. Ia menyayangkan, jika putus sekolah apa yang akan dilakukan, sedangkan sekolah tinggal beberapa bulan lagi.

Hasan mendengarkan penjelasan dan permohonan ibunya. Ia tertunduk malu, dan tidak bisa berbuat apa-apa. Penyesalan dalam hatinya, membuat ia kian melemah. Begitu cinta, ibu terhadapnya. Namun, ia tak mampu mengungkapkan rasa cinta yang sama. Karena masih ada rasa keegoisan di hatinya.

“Baiklah Bu, kami akan memberikan sekali lagi kesempatan kepada Hasan. Namun, saya berharap Hasan bisa memegang kepercayaan kami,” ujar kepala sekolah mengatasnamakan pihak sekolah.

“Alhamdulillah, terima kasih Bu telah berkenan memberikan kesempatan kepada kami,” sahut Inem dengan mata berbinar. Ia akan benar-benar menjaga Hasan, akan ia pastikan putranya masuk sekolah dan tidak melakukan hal yang bodoh lagi.

“Hasan, apakah kamu siap untuk memanfaatkan kesempatan ini? tanya kepala sekolah, sambil menyentuh bahu Hasan yang dari awal tertunduk malu.

“Insya Allah saya siap Bu,” jawab Hasan pelan. Tak terasa ada buliran bening di ekor matanya yang mulai mengalir. Baru kali ini, ia menangis dalam hidupnya setelah tangisannya saat ia masih bayi. Ia tak pernah merasakan tangis sesedih ini. Karena selama ia kecil jarang menangis, semua keperluan dan keinginan selalu dipenuhi oleh ibunya.

“Alhamdulillah Hasan, mohon dijaga amanah ibu ya? Walaupun nasihat orang tua dan ibu sebagai gurumu dilontarkan dengan panjang lebar hingga berbusa. Namun, jika hatimu tidak menerima dengan ikhlas, maka itu akan sia-sia belaka,” jelas ibu kepala sekolah sambil menyentuh dada Hasan.

Srrr …, ada rasa merinding saat kepala sekolah melontarkan kalimat itu. Baru kali ini ia merasakan nyaman dan pikirannya begitu tenang. Hasan masih tertunduk, ia hanya mampu menganggukkan kepala saat ibu kepala sekolah menasihatinya.

“Sudahlah Hasan, sekarang kamu mohon ampun terhadap Allah dan mintalah maaf kepada kedua orang tuamu. Mereka begitu sayang, banting tulang mencari nafkah demi memenuhi semua keinginanmu,” kembali Bu kepala sekolah melanjutkan nasihatnya. Memastikan jika Hasan benar-benar berubah dan sadar.

“Iya Bu,” cukup singkat jawaban Hasan. Ia tak kuasa menahan emosi dalam hatinya, lalu bangkit dan bersimpuh di lantai. Ia meraih tangan Inem, dicium tangan dan pipi ibunya. Kemudian memeluk ibunya dengan kuat dan mengatakan maaf tiada henti.

Sungguh pemandangan yang mengharu biru, isak tangis mereka meledak. Inem dan Hasan hanyut dalam tangis bahagia. Setelah dipastikan telah tersentuh hati Hasan, kemudian ibu kepala sekolah menyodorkan surat pernyataan bahwa Hasan akan bersungguh-sungguh berubah, surat tersebut sebagai dokumen dan saksi atas kesungguhan Hasan.

Hari pun begitu cepat, Inem dan Hasan kembali ke rumah sedangkan Paijo belum pulang dari keliling mencari nafkah. Inem meminta Hasan untuk istirahat, ia merasa lega dengan segala rasa ditumpahkan tadi di sekolah.

“Istirahatlah dulu saja ya Nak, ibu akan menyiapkan makan siang,” ucap Inem sambil berlalu ke dapur. Inem akan memasak makanan kesukaan Hasan. Ia sudah lama tak pernah memasak makanan favorit anaknya. Tidak apalah sesekali menyenangkan hati anak, gumam Inem dalam hati.

“Iya Bu, boleh saya bantu? tanya Hasan. Inem kaget dengan pertanyaan anaknya. Ia langsung menganggukkan kepala tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Kembali netra Inem berkaca-kaca, tangis bukan karena sedih. Namun, ini tangis haru dan bahagia. Bersyukur kepada Allah, ia yakin bahwa selama ini Hasan sebenarnya anak baik. Pergaulanlah yang membawa dan menjerumuskannya dalam kubangan dosa.

Setelah selesai menyiapkan makanan, kumandang suara azan memanggil untuk menunaikan salat Zuhur. Hasan bergegas siap-siap ke musala, ia mandi dan memakai baju muslim, sarung dan peci. Setelah izin, ia langsung berangkat ke musala.

Inem menatap keberangkatan Hasan dengan doa yang tak pernah putus untuk anaknya. “Rabbi habli minassholihin,” Ia bersyukur dan memohon agar Hasan istikamah dengan perubahannya. Namun, tetap saja segala perbuatan baik pun belum tentu dipandang baik oleh orang-orang yang kerap menilai jelek.

“Awas, ada maling ke musala. Hati-hati amankan kotak amal!” seru salah satu warga yang melihat kedatangan Hasan. Sebutan jelek sudah terukir, Hasan sudah dicap maling. Memang untuk mengubah penilaian terhadap orang tak semudah membalikkan telapak tangan. Ini merupakan ujian kesabaran bagi orang-orang yang bertobat.

Jiwa muda Hasan bergejolak, ingin rasanya ia menyumpal mulut warga itu. Namun, janjinya terhadap ibu untuk tidak berlaku kasar dan jahat terngiang di telinganya. Ia pun mengurungkan niatnya. Sabar ya, jangan terbawa emosi. Selama kita akan berusaha lebih baik. Jalan itu tak selamanya mulus. Pasti banyak kerikil dan ranting tajam di jalan. Untuk itu harus berhati-hati dan sabar. Bersabarlah, sesungguhnya Allah bersama-sama orang sabar. Kembali ucapan Inem terngiang di telinga Hasan.

Selepas salat, Hasan pulang tanpa menggubris omongan orang. Walaupun sudah dipanggil maling, anak durhaka, dan berbagai cap jelek lainnya dilontarkan oleh warga, ia sabar dan diam tanpa membalas. Namun, tiba-tiba dari kejauhan ada yang memanggilnya, ia berhenti sejenak. Panggilan pun berhenti. Ketika ia melangkahkan kembali kakinya, kembali terdengar namanya dipanggil.

Bersambung

rumahmediagrup/suratmihamasah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.