KATANYA TERSERAH, TAPI KOK MARAH?

KATANYA TERSERAH, TAPI KOK MARAH?

Oleh Irma Syarief

“Kamu mau makan apa, Sayang! Mas beliin sekalian pulang kantor.”
“Terserah, Mas! Yang penting … enak!”
“Oke, Sayang!”

Sampai di rumah.

“Sayang, ini makanan paling enak, yang beli ngantri. Mas lihat orang-orang banyak yang pesan sampai beberapa bungkus. Tadi dapet rek …”

“Ini makanan apaan sih, Mas? Engga suka! Aku engga mau. Emang engga ada yang lain lagi?”

Si istri cemberut dan suami hanya bisa melongo. Makanan pun teronggok dingin tidak ada yang memakannya.

***

Siapa yang pernah ada di posisi si istri atau suami yang seperti tadi? Pasti pernah! Bagaimana rasanya? Sumpah … tentu saja itu sangat tidak mengenakkan. Tidak menyenangkan walaupun niatnya mau bikin senang.

Terserah deh! Kata sederhana tapi cukup berat dalam pelaksanaannya. Seringkali pula kata ini memicu konflik dalam rumah tangga dan hubungan suami istri.

Saya dan suami pernah ada di posisi seperti ini. Kadang kami bertukar posisi. Sesekali saya yang bilang terserah, namun di lain waktu suami yang berkata terserah. Alih-Alih, terserah dalam kamus saya dan suami ternyata berbeda.

Ketika suami mengatakan terserah, dia betul-betul menyerahkan segala keputusan kepada saya. Jadilah saya orang yang menentukan arah. Tidak ada protes sedikit pun dari dia.

Sementara buat saya, terserah adalah bentuk dari galau atau belum ada pilihan yang tepat. Saya seolah “menuntut” suami mengerti dan yakin dia sudah ada pilihan tentang apa yang saya mau tanpa harus bertanya lagi.

Maaf ya, Beb!

Ternyata, saya egois ya? Begitulah wanita. Sstt … Tentu hal seperti ini bukan hanya saya saja. Sebagian besar para wanita seperti itu, selalu ingin dimengerti dan dipahami. Iya, kan? Ngaku deh! Ha … ha … ha!

Terserah dalam KBBI atau Kamus Besar Bahasa Indonesia mengandung dua makna atau pengertian. Makna pertama adalah menyerahkan segala keputusan atau bergantung kepada orang lain. Makna kedua adalah masa bodoh. Ada ketidakpedulian.

Kata terserah bisa menjadi pertanyaan pada pikiran lawan bicara atau seseorang yang menawarkan sesuatu kebaikan. Syukur-syukur yang mengatakan terserah bisa menerima segala hasilnya dengan lapang dada dan tidak ada tuntutan di kemudian hari. Namun, jika kata itu akhirnya menjadi konflik, bukannya memberi manfaat dan kebahagian, yang ada malah akan menjadi bumerang bagi keduanya.

Jangan salah juga, ketika seseorang mengucapkan kata terserah, bisa saja dia sendiri sedang bimbang, buntu, tidak ada pilihan yang tepat atau juga bentuk lepas tanggung jawab.

Padahal, sekali kata itu terucap artinya kita menyerahkan keputusan kepada orang lain yang belum tentu sesuai dengan keinginan kita. Belum tentu keputusan yang terbaik.

Kata terserah pun dianggap sesuatu yang mengambang. Tidak mempunyai pijakan. Ibarat benda yang mengapung di atas air, melayang di udara lalu membiarkan arus atau angin membawanya kemana saja.

Eh, apa tuh yang mengapung di atas air atau melayang dibawa angin? Jawabnya … terserah! Kalian mau jawab apa. Tidak ada patokan jelas ‘kan?

Jadi, jangan marah kalau kenyataan tidak sesuai harapan dan impian setelah kalian mengucapkan kata terserah.

Gambar pinterest

rumahmediagrup/irmasyarief

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.