Sahur Pertama Penjaga Masjid Tua

Sahur Pertama Penjaga Masjid Tua

Masjid tua ini dibangun jauh sebelum Indonesia merdeka. Konon di masa penjajah kolonial dan perempuan Jawa masih berbaju “kemben” seorang ulama datang dari Arab untuk berdakwah dan mulai mendirikan masjid ini. Penjaga masjid dipercayakan turun temurun mulai nenek moyang Mbah Samian yang setia mengabdi kepada Syekh yang makam keramatnya berada di halaman samping masjid.

Banyak peziarah yang datang silih berganti mengunjungi makam keramat itu. Sesudah mengaji dan berdoa mereka biasanya memberi beberapa lembar rupiah kepada mbah Samian sebagai sedekah. Dari sinilah mbah Samian bertahan hidup selain mendapat uang bulanan sebagai penjaga masjid.

Di awal Ramadan biasanya banyak sekali peziarah yang datang untuk bertawasul di makam itu. Bahkan di malam pertama Ramadan banyak peziarah yang menginap dan beri’tikaf di masjid. Mbah Samian selalu menantikan momen Ramadan ini, karena dia sangat senang ketika bisa mengenal orang baru dan mereka akan sahur bersama-sama setelah melakukan ibadah tahajud.

Tapi Ramadan kali ini benar-benar berbeda. Masyarakat tidak lagi datang ke masjid maupun makam keramat karena adanya wabah covid 19. Mbah Samian yang sudah berusia 75 tahun itu mencoba memahami situasi yang terjadi. Dia teringat ketika dia masih muda dulu pernah mengalami wabah semacam ini. Orang-orang menyebutnya pageblug. Situasi waktu itu malah lebih memprihatinkan. Sandang pangan begitu sulit didapatkan.

Usai shalat tarawih di masjid, mbah Samian duduk berselonjor di serambi. Alangkah sepinya masjid yang biasanya ramai pengunjung ini sekarang. Kakek tua ini mulai meluruskan punggung tuanya di karpet masjid, memutar tasbihnya hingga dia tertidur.

Tepat jam tiga dia merasa seseorang menyentuh tubuhnya. Dia merasakan ada yang pelan-pelan memanggil namanya.

“Bangun mbah, waktunya makan sahur.”

Matanya yang rabun samar-samar melihat wajah teduh Ustadz Ahmad, anak keturunan Syekh yang melanjutkan dakwah di daerahnya.

Mbah Samian perlahan berdiri dan menuju kamar mandi untuk berwudhu. Keluar dari kamar mandi, dia masih melihat Ustadz Ahmad duduk menunggunya, mengajaknya ke kediamannya untuk makan sahur bersama.

Mbah Samian duduk di meja makan sederhana itu. Di depannya duduk tiga anak kecil putra putri Ustadz Ahmad. Di sisi lain dia melihat Ning Aza istri ustadz Ahmad sibuk menyiapkan minuman. Sekejap dia merasa memiliki keluarga. Sekilas berkelebat bayangan istrinya yang sudah meninggal. Air mata menggenang di sudut matanya, mengingat kesabaran mereka berdua mengarungi hidup tanpa anak.

“Kok nangis, Mbah?”

Suara jernih putra ustadz Ahmad membuyarkan lamunannya.

“Mulai sekarang dan seterusnya sahur dan buka di sini terus ya, mbah. Makan bersama kami terus. Mbah Samian sudah kami anggap keluarga sendiri.”

Ning Aza yang baik hati menyuguhkan makanan sambil berkata lembut. Mbah Samian tak kuasa menahan haru, merasakan berkah yang diberikan yang maha kuasa di sisa usianya. Dia memandang meja makan di depannya. Ada tempe tahu, telur ceplok dan sambal kecap, dan anugerah terbesar yang dirasakannya adalah cinta dan kasih sayang yang dia terima. Sahur pertama yang tidak akan pernah dilupakannya.

Rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

Satu respons untuk “Sahur Pertama Penjaga Masjid Tua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.