Sahur Pertama di Tengah Pandemi Corona

Sahur Pertama di Tengah Pandemi Corona

Bulan Sya’ban telah berada di penghujungnya. Sebentar lagi Ramadan tiba. Biasanya, Ramadan kami sambut dengan suka cita. Tapi, kali ini berbeda. Justru gelisah yang tiba-tiba hadir. Bagaimana tidak, anak semata wayangku kini berada jauh dari pandangan. Belum genap setahun, dia bekerja di Bekasi. Saat kutanya melalui telepon mengenai boleh tidaknya dia pulang ke kampung pada awal Ramadan, dia hanya menjawab, “Tidak tahu. Nanti saya cari tahu dulu, Bun,” Aku sendiri maklum, sebagai pegawai baru, dia belum tahu banyak tentang aturan di kantornya.

Sehari menjelang Ramadan, aku telepon dia lagi. Aku tanya boleh pulang atau tidak. Dia menjawab, “Sepertinya tidak diizinkan pulang Bun. Apalagi sekarang berlaku PSBB. Yang merantau diimbau untuk tidak mudik,”  jawabnya dengan suara agak tercekat. Mendengar suaranya itu, ada perih yang mengguris hatiku, Tubuhku lunglai. Air mata tak bisa kubendung. Kubiarkan ia meleleh membasahi pipi.

Ramadan-Ramadan sebelumnya, aku sangat bersemangat menyiapkan santap sahur, apalagi sahur pertama. Saking takut terlambat bangun, kupasang alarm dalam beberapa waktu, mulai pukul 02.00, 02.30, dan 03.00 dengan nada dering yang berbeda. Waktu itu kuanggap cukup untuk mempersiapkan menu kesukaan Nanda, anak semata wayangku. Dia tidak terlalu suka olahan daging kambing atau sapi. Yang dia suka hanyalah ayam goreng serundeng dengan sambal beledak dipadu dengan sayur asem.

Aku masih berharap keajaiban terjadi. Aku tetap berharap tiba-tiba Nanda pulang untuk sahur pertama bersama kami. Magrib sudah berlalu, isa dan tarawih pun sudah selesai kukerjakan di rumah bersama suami. Sedih sekali rasanya tarawih hanya berdua. Tapi apa boleh dikata, imbauan jaga jarak dan beribadah di rumah saja membuat kami pasrah. Tambah lagi, tarawih pertama ini pun tanpa kehadiran Nanda.

Tidurku malam ini tidaklah lelap. Sebentar-sebentar terjaga. Tersentak berkali-kali oleh deruman mobil yang berhenti di depan rumah. Setengah meloncat dari ranjang, aku berlari menuju jendela depan, melongok dari balik gorden. Kubelalakkan mataku mengitari halaman dan jalan depan rumah yang remang-remang. Lengang, tidak ada mobil terparkir atau pun orang di situ. Aku kembali ke tempat tidur dengan hati pilu.

Hingga alarm pertama berbunyi, aku masih berharap anakku datang. Segera kutinggalkan suamiku di tempat  tidur. Sepertinya dia juga sempat terganggu oleh ulahku yang bolak-balik ke depan. Aku bergegas ke kamar mandi. Segera kuambil air wudu, kudirikan qiyamul lail. Nanda menjadi prioritas dalam lantunan doa-doaku. Semoga-doaku itu melesat menuju langit, hingga dikembalikan ke bumi dalam bentuk pengabulan.

Selesai salat malam, bergegas aku menuju dapur yang letaknya berdampingan dengan tempat salat. Segera kugoreng ayam yang sudah kuungkep sejak kemarin sore. Harum ayam goreng semakin mengingatkanku pada Nanda. Dia selalu menghirup aroma ayam gorengnya itu begitu masuk dapur.

Alarm ketiga berbunyi. Tidak juga ada tanda-tanda Nanda segera datang. Akhirnya kutelepon lagi dia. Lama menunggu panggilanku dijawab.

“Iya hallo … ,” terdengar suara parau anak lelakiku dari seberang.

“Assalamu’alaikum, Nak. Kamu baru bangun ya?” tanyaku.

“Eh, Bunda. Wa’alaykumussalam. Iya Bun,”

“Kamu belum sahur, Nak?” tanyaku

“Sebentar lagi, Bun,” kilahnya.

“Ada apa untuk sahurmu, Nanda?” tenggorokanku merasa tercekat, perih.

“Banyak, Bun. Bunda tidak usah khawatir,” Dia mencoba meyakinkanku. Tapi hatiku mengatakan bahwa dia sedang berbohong.

“Nak, bunda ganti panggilan video ya,” pintaku. “Bunda kangen,” lanjutku.

“Iya, Bun. Boleh. Nanda juga kangen sama Bunda,” jawabnya.

Kami pun mengobrol melalui panggilan video.

“Mana untuk sahurmu, Nak?” tanyaku.

“Eum … ini Bun. Dia memperlihatkan mi instan dalam cup,” Dia memperlihatkan senyumnya. Manis sekali. Tapi justru membuatku semakin terenyuh.

“Bunda sudah siapkan ayang goreng serundeng, sambal beledak, dan sayur asam untukmu sahur,”

“Bunda, kalau Bunda tak keberatan, kirimkan itu pada tetangga kita yang kurang mampu. Anggap saja Nanda yang makan,” katanya dengan mantap.

Ah, anakku. Perasaanmu memang amat halus. Selalu peduli pada orang lain. Air mataku menitik membasahi layar gawai.

“Bunda jangan nangis. Lihat Bunda nangis, Nanda jadi sedih.” mulai tersedu. “Nanda di sini baik-baik saja, Bun. Bunda berdoa saja agar Nanda bisa pulang lebaran nanti. Agar kita bisa berlebaran bersama,” terlihat menyeka air matanya.

“Nanda, Bun?” suamiku berdiri di sampingku.

“Iya, Yah,” kuberikan gawai itu padanya. Dia terdengar menasihati Nanda untuk berusaha tetap melaksanakan ibadah Ramadan seperti yang dilakukan saat di rumah.

Selesai mengobrol dengan anakku. Aku pamit pada suami untuk memberikan sebagian sajian sahur itu pada keluarga Mang Karta.

“Tadi Nanda berpesan, jatah sahurnya kirimkan pada tetangga yang kurang mampu,” kataku. Suamiku hanya menjawab dengan anggukan disertai senyuman.

Jarak rumah kami dengan Mang Karta tidak begitu jauh. Hanya melewati dua rumah, tibalah aku di depan pintu rumahnya. Setelah kuketuk pintu dan mengucapkan salam, terdengar suara menyahut dari dalam.

“Wa’alaikum salam. Sebentar,” sambil membuka pintu. “Eh, Ibu Haji. Silakan masuk, Bu,” sapa Bi Minah, Istri Mang Karta.  Sekilas, aku menangkap keheranan di wajah Bi Minah.

“Terima kasih, Bi. Saya tidak akan lama, kok. Ini ada sedikit hidangan untuk anak-anak,” kusodorkan kantong keresek yang kubawa.

“Aduh, Ibu Haji. Apa ini, Bu? Kok repot-repot,” kata Bi Minah. Dia terlihat ragu menerima kantong itu.

“Saya masak lumayan banyak, Bi. Saya kira Nanda bisa sahur pertamanya di rumah. Ternyata dia tidak diperbolehkan pulang,” terangku. “Ini, Bi. Silakan ambil,” lanjutku.

“Eh, ada Bu haji,” sapa Mang Karta yang muncul dari pintu tengah rumah.

“Iya, Pak. Bu Haji ngirim ini untuk sahur,” Bi Minah yang menjawab.

“Iya, Mang. Saya masak lumayan banyak. Sayang di rumah tidak ada yang makan. Di sini kan banyak anak-anak. Barangkali mereka suka,” paparku.

“Terima kasih banyak, Bu Haji. Semoga rezeki Bu Haji dan keluarga makin berlimpah,” kata Mang Karta.

“Aamiin,” sahutku. “Saya pamit pulang dulu, ya Mang, Bi. Saya juga mau sahur, “Assalamu’alaikum,” pamitku.

“Iya…iya, Bu Haji. Terima kasih banyak. Wa’alaykumussalam,” balas Mang Karta.

Saat mau balik badan, ekor mataku menangkap tiga sosok mungil yang melongok dari pintu tengah. Cucu-cucu Mang Karta. Sejak dua tahun lalu mereka ditinggalkan bekerja ke luar negeri oleh orang tuanya. Menurut kabar yang kudengar, keduanya termasuk TKI bermasalah karena berangkat melalui agen tenaga kerja ilegal. Hingga kini, tidak ada kabar tentang anak dan menantu Mang Karta itu. Sejak keberangkatan orang tuanya, ketiga cucu Mang Karta yang masih kecil-kecil itu dirawat Mang Karta dan istrinya. Kehidupan Mang Karta dan keluarganya sungguh memprihatinkan. Mang Karta mencari nafkah dengan berjualan nasi goreng setiap malam di alun-alun . Tapi sejak mewabahnya corona, Mang Karta dan teman-temannya sesama pedagang dilarang berjualan lagi.  Otomatis, Mang Karta kehilangan penghasilannya. 

Baru saja aku selangkah meninggalkan rumah itu, kudengar riuh dari dalam rumah.

“Asyiik… ayam goreng,” celoteh salah satu cucu Mang Karta.

“Hus! Jangan keras-keras, malu kalau Bu Haji dengar” suara Mang Karta.

“Alhamdulillah, anak-anak jadi bisa makan sahur,” samar-samar suara Bi Minah.

Aku jadi penasaran. Aku berjingkat ke samping rumah Mang Karta. Ku intip dari jendela kaca tanpa tirai, sekeluarga duduk di atas selembar tikar usang. Ketiga cucu Mang Karta sedang makan dengan lahap makanan yang kubawa tadi. Dadaku terasa begitu sesak saat menyadari tidak ada makanan lain di situ. Hanya ada ketel tempat minum dengan lima cangkir plastik di hadapan mereka. ***

#WCR_sahurpertama_sinur

rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.