Rekening Gendut dan Magic Com Kosong (Renungan Menyambut Ramadan)

Rekening Gendut dan Magic Com Kosong (Renungan Menyambut Ramadan)

Suara burung bersahut-sahutan di taman rumah membuatku bangun dari tidurku yang nyaman. Aku benar-benar menikmati liburanku karena datangnya virus corona. Sebenarnya sedih sekali tapi jika mau jujur di lubuk hatiku ada rasa senang karena bisa menikmati libur panjang tanpa mengganggu bulan maduku. Mas Ahmad yang menikahiku di masa awal pandemi memberiku hadiah sebuah rumah mewah di sudut kota Malang. Rumah yang terletak di kawasan perumahan elit ini begitu nyaman untuk rumah tinggal. Jauh berbeda dengan rumah orang tuaku di desa yang selalu ramai dengan suara tangis tawa anak tetangga.

Orang tuaku bukanlah orang berada. Kami hidup sederhana dengan penghasilan pas-pasan ayah dan ibu yang membuka toko sembako di depan rumah kami. Meski begitu٫ ayah adalah orang yang mengutamakan pendidikan anak-anaknya. Ayah memasukkanku dan adik-adikku ke sebuah pesantren tahfiz Quran sejak aku lulus SD. Sebagai anak pertama aku seringkali mengalah kepada adik-adikku karena keterbatasan uang saku yang diberikan oleh ayah dan ibu. Tapi Allah yang maha lembut senantiasa memanjakanku dengan menganugerahiku sabar dan ikhlas. Setidaknya begitulah penilaian orang-orang sekitarku.

Tahun ini tahun ketujuh aku tinggal di pesantren. Hampir setahun aku lulus SMA yang lokasinya di dalam pesantren. Keinginanku untuk kuliah terpaksa aku hanguskan karena keterbatasan biaya. Aku tetap tinggal di pesantren sampai wisuda tahfidz. Ibuku menangis ketika aku menaiki panggung wisuda. Rasa haru menyeruak melihat putrinya berhasil menghafal Al Quran 30 juz. Akupun tak bisa menahan kucuran air mata mengingat perjuangan hidup yang tidak mudah.

Untuk menambah uang saku aku pun mulai membantu menjadi guru TK di depan pesantren. Setiap hari aku pergi mengajar mengaji anak-anak TK dan sesudah mengajar aku tetap pulang ke pesantren. Gaji yang kuterima tidaklah banyak٫ hanya 350 ribu rupiah perbulan٫ tapi aku sangat mensyukurinya.

Suatu hari sepulang mengajar ibu nyaiku memanggilku. Ternyata di kediaman beliau sudah ada ayah dan ibuku٫ dan seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Setelah aku bersalaman dengan orang tuaku dan ibu nyai٫ aku duduk di antara mereka dengan rasa penasaran. Ada apa gerangan?

Kyai memulai pembicaraan dengan hati-hati. Menanyaiku apa aku bersedia menikah dengan laki-laki yang ada di depan kami. Sepintas aku meliriknya. Kulitnya agak hitam dan wajahnya manis meskipun tidak semanis Shah Rukh Khan bintang film idolaku. Antara takut dan bingung٫ kutoleh ayah dan ibu meminta petunjuk dari mereka٫ hingga akhirnya kuputuskan untuk menyetujuinya tanpa pertanyaan apapun.

Persiapan pernikahan pun sibuk dilaksanakan. Singkat sekali٫ dua minggu sesudah pertemuan itu tanggal pernikahan ditentukan. Aku ingin sekali lagi melihat wajah calon suamiku tapi tidak bisa. Aku tidak punya HP dan tidak tau bagaimana harus berkomunikasi dengan dia. Sekilas terlintas adegan romantis di film India ketika calon suami memanjakan calon istrinya٫ tapi itu tidak pernah terjadi padaku.

Dua hari sebelum pernikahan ayah menjemputku dari pesantren. Saat itu ramai tersiar mulai masuknya virus corona ke Indonesia. Tak ada yang istimewa di rumahku. Tidak ada pesta karena kata orang-orang dilarang melakukan pesta supaya virus corona tidak menyebar. Jauh sekali dari angan-anganku tentang kemewahan sebuah pernikahan. Akupun mulai khawatir dan mengeluhkan nasibku yang entah bagaimana kelanjutannya.

Hari H pernikahan٫ keluarga dekat dan sahabat-sahabat memuji kecantikanku dan mengucapkan selamat. Seorang teman ibu berkata betapa beruntungnya aku menjadi istri orang yang tidak kukenal itu. Akad nikahpun dilangsungkan dan aku terkejut mendengar mahar yang jumlahnya fantastis itu diberikan untukku. Aku menangis sesenggukan di hari bahagia itu. Bingung tidak tau apa yang sebenarnya aku rasakan. Orang seperti apa dia yang mau memberiku mahar yang disebut miliar rupiah.

Berikutnya kujalani hidupku dengan bahagia. Orang yang sangat baik ini bernama Ahmad. Dan dia dikirimkan Allah untukku untuk mewarnai hidupku yang memang jarang berwarna. Aku mengagumi semua tentang dia٫ dan menikmati semua letupan perasaanku.

Beberapa hari sebelum Ramadan tiba٫ dia memintaku untuk mengeluarkan uangku sendiri untuk bersedekah kepada beberapa orang keluarga yang kekurangan dan memastikan mereka tercukupi hingga lebaran datang. Akupun segera ke ATM mengambil uang secukupnya dan mengunjungi kerabat ibuku. Agak bimbang akan mengetuk rumahnya berkaitan dengan adanya virus yang sedang mewabah. Tapi kutekadkan hati untuk masuk. Mereka adalah kerabatku dari pihak ibu. Pasangan muda dengan empat orang anak. Aku berbasa basi sekedarnya sampai akhirnya kudengar putri tertua mereka yang kelas 6 SD berkata dari arah dapur٫

“Bu٫ nasi di magic com habis. Berasnya juga habis. Ibu jadi jual kunyit buat ditukar beras atau tidak? Saya sudah lapar bu. Tadi gak kebagian nasi.”

Aku terkejut mendengar itu dan tak kuasa menahan tangisku. Bergegas mengambil uang di tas yang masih tercampur struk ATM dengan saldo yang bernama miliar rupiah. Duh Gusti٫ betapa diri ini kurang bersyukur dan selalu mengeluh.

Keluar dari rumah itu٫ tak kuasa kutahan tangis. Mensyukuri nikmat terbesar sang Maha Rahim yang telah memberiku suami yang begitu baik untuk bersama mengarungi indahnya Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya. Dalam hati kutekadkan untuk bisa lebih baik dan lebih empati kepada penderitaan orang lain seperti tujuan datangnya Ramadhan. Marhaban Ya Ramadhan…Aku menyambutmu dengan penuh cinta.

Rumahmediagrup/muslimatulfaiqoh

Satu respons untuk “Rekening Gendut dan Magic Com Kosong (Renungan Menyambut Ramadan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.