Sang Bidadari (24)

Sang Bidadari (24)

Kehadiran seorang bayi perempuan yang cantik, telah memberikan cahaya kebahagiaan dalam keluarga Aditya. Orang tua Aditya begitu bahagia menyambut cucu yang mereka nantikan selama ini.

Aditya pun menyambut bayi mungil itu dengan senyum bahagianya. Ia tak menyangka, akhirnya bisa memiliki seorang anak, darah dagingnya sendiri. Meski bayi itu tak terlahir dari rahim istri yang dicintainya, tapi Aditya tetap bersyukur dengan kehadirannya.

Aditya menerima bayi mungil itu dari tangan Viona. Paras cantiknya sama seperti ibunya. Ia menggeliat saat Aditya menggendongnya.

Aditya mengazani bayinya dengan begitu syahdu, lalu mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Ditatapnya lekat wajah cantik itu. Ia pun tersenyum. Bahagia.

Ruangan itu kini berlimpah bahagia, dengan kelahiran sang malaikat kecil nan cantik. Aditya yang awalnya tak menginginkan benihnya tumbuh di rahim Viona, kini ia menyesali sikapnya. Ternyata seorang anak dapat memberikan rasa bahagia yang tak terhingga.

Naya ikut bahagia dengan kelahiran anak Viona dan Aditya. Tapi ia tak bisa membohongi hatinya, jika ada rasa sedih yang menjalar kini.

Sebagai seorang perempuan sekaligus istri, ia tak bisa memberikan kebahagiaan berupa hadirnya seorang bayi untuk suaminya. Hingga harus perempuan lainlah yang memberikannya.

Air menggenang di kedua netranya. Segera ia hapus, agar tak seorang pun melihat kepedihan hatinya. Ia tak ingin merusak momen bahagia yang kini tengah dirasakan keluarganya.

Naya perlahan menjauh dari ruang perawatan Viona. Ia tak ingin perasaan cemburunya semakin merasuki jiwa, hingga membuat air matanya tak bisa terbendung lagi.

Naya memang tak bisa menahan tangis, yang sejak tadi ia ia pendam agar tak tertumpah. Ia hanya perempuan biasa yang memiliki rasa sakit, melihat ia tak bisa memberikan kebahagiaan bagi suami dan mertuanya.

Air mata Naya sudah mengalir deras saat sampai di beranda rumah sakit. Suasana di sana begitu sepi, sehingga ia leluasa menumpahkan tangisnya.

Selama beberapa saat lamanya Naya menangis. Dalam hatinya terus beristigfar agar ia tak berburuk sangka akan ketetapan Allah dalam hidupnya.

“Menangislah jika itu membuatmu merasa lebih tenang.”

Naya terkejut mendengar suara itu. Sesaat ia menyapu air mata yang berderai dengan punggung tangannya, kemudian ia menoleh ke arah suara itu.

Naya terkesiap melihat sosok lelaki yang tengah berdiri di hadapannya. Lelaki yang pernah mengungkapkan cinta untuknya.

“Reza?”

Lelaki itu tersenyum. Tak ada yang berubah dalam dirinya. Ia masih seperti dulu, masih seramah biasanya.

“Kau di sini?” tanya Naya seraya bangkit dari duduknya.

“Aku praktek di rumah sakit ini juga,” ucapnya mengurai kecanggungan.

“Kau sendiri, sedang apa di sini?”

Pertanyaan Reza seakan menyadarkan Naya kembali, akan kejadian yang baru dialaminya beberapa saat yang lalu. Ia tak mungkin menceritakan apa yang terjadi dalam hidupnya.

“Saudaraku baru melahirkan, aku baru saja melihatnya,” ujar Naya berbohong.

“Lalu kenapa kau menangis?”

Naya tak menjawab. Dialihkan pandangannya ke sekitar. Kemudian ia menggeleng pelan.

“Maaf, aku tak bisa cerita padamu, Za.”

Naya mencoba menutupi kesedihan di hatinya. Siapa pun tak boleh mengetahui tentang keadaannya. Meski itu Reza sekali pun.

Reza menatap Naya dengan nanar. Ia yakin, ada sesuatu yang terjadi dengan Naya hingga membuatnya menangis. Tapi Reza tak ingin memaksa Naya untuk bercerita. Setelah sekian lama, ia ingin pertemuannya dengan Naya, tak membuat perempuan itu merasa disudutkan.

“Aku harus pergi,” ucap Naya hendak berlalu.

“Kita masih bisa bertemu lagi ‘kan Nay?” tanya Reza berharap.

Naya menatap Reza sejenak, lalu mengagguk perlahan.

“Insyaa Allah.”

Naya berlalu pergi setelah mengucap salam. Reza menatap punggung Naya yang semakin jauh dari pandangan. Ia masih menyimpan rasa itu untuk Naya. Bahkan sampai kini, rasa itu tak pernah bisa pergi dari hatinya.

‘Aku selalu mencintaimu, meski aku tak bisa memilikimu. Melihatmu bahagia adalah satu-satunya harapanku untukmu,’ bisik Reza perih.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.