Sang Bidadari (23)

Sang Bidadari (23)

“Tolong, jangan menangis, Sayang. Aku tak kuasa melihatmu bersedih. Jika ada yang membuatmu terluka, hatiku jauh merasakan sakitnya. Jangan biarkan derita itu mengungkungmu, aku ingin kau bahagia.”

Naya menghambur dalam pelukan suaminya. Meski hari-harinya telah dilalui dengan penuh dera dan air mata, tapi rasa cinta dan perhatian Aditya, masih sebesar dulu. Membuat Naya terharu dan merasa terlindungi.

Aditya merengkuh tubuh istrinya yang terguncang, oleh luka yang selama ini berusaha disembunyikan darinya. Ia bisa memahami kepedihan Naya, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Semua sudah sejalan, berdasarkan keinginan Naya.

Meskipun Aditya tahu, jika hati Naya pun rapuh menghadapi kenyataan yang tengah menimpanya kini, tapi ia yakin, Naya akan bisa kuat lebih dari yang dibayangkan.

Perempuan yang sudah ia nikahi selama kurang lebih enam tahun itu, begitu tegar meski hatinya terluka. Ia begitu tangguh meski jiwanya hancur. Ia begitu kuat meski hidupnya terguncang.

Cinta Adityalah yang selalu bisa menopang Naya untuk tetap berusaha tegar, selain cinta Sang Maha Penyayang, yang selama ini memberikannya keberanian untuk menjalani setiap takdir yang masih dimampukan untuknya.

Di balik didnding dapur, tampak Viona meneteskan air mata. Ia merasa bersalah, telah hadir di tengah-tengah kebahagiaan mereka. Tapi, ia pun tak bisa memungkiri, jika ia merasa cemburu melihat kemesraan Naya dan Aditya. Viona tak tahu, sejak kapan ia mulai jatuh cinta pada Aditya.

**

“Aku sudah cukup bahagia, Mas, dengan kau lebih perhatian kini, itu membuatku merasa dianggap sebagai seorang istri,” ucap Viona sambil bergelayut manja di lengan Aditya.

Aditya tersenyum sekilas. Pandangannya masih ia tujukan pada bunga-bunga aster yang tengah bermekaran di taman. Bunga aster kesayangan Naya, yang selalu dirawatnya dengan penuh cinta.

Sejenak hati Aditya merasa sakit memikirkan Naya. Beberapa hari ini, sikap Naya sedikit berubah terhadapnya. Naya lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah.

Sejak Aditya memberikan izin, untuk Naya kembali menjadi dosen di kampus tempat mengajarnya dulu, ia merasa dinomor duakan. Perhatiannya tak seperti biasanya. Kesibukan di kampus, seakan menyita waktu dari rutinitas sebagai seorang istri.

Aditya tak bisa menolak, saat Naya megajukan diri untuk kembali mengajar di kampus. Ia mempertimbangkan kondisi Naya yang terlalu fokus di rumah tanpa ada kegiatan rutin, selain menunggunya pulang dari kantor.

Naya punya alasan, kenapa ia ingin kembali mengajar di kampus. Itu karena, ia ingin Viona memiliki kesempatan untuk melayani Aditya sebagai seorang istri.

Curahan hati Viona yang didengarnya beberapa waktu lalu, membuat Naya merasa iba. Walaupun Aditya lebih perhatian kini, tapi tetap saja, Viona tak bisa merasakan bagaimana menjadi seorang istri untuk suaminya.

Naya akhirnya mengambil keputusan itu. Memberikan Viona ruang untuk bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Meski harus bolak-balik dari rumahnya dengan kondisi hamil, tapi Viona rela melakukan itu, demi bisa melayani Aditya.

Sebenarnya, Naya tak sampai hati mengacuhkan syaminya. Ia hanya membuatkan secangkir kopi sebelum pergi ke kampus. Selanjutnya, tugas Viona membuat sarapan untuk Aditya.

Naya tak bisa bersikap egois. Sebagai seorang perempuan, ia bisa merasakan penderitaan perempuan lainnya, walau itu adalah istri lain suaminya.

Ia tak bisa terus mengungkung Aditya dalam genggamannya. Viona pun berhak atas Aditya. Sulit memang merelakan apa yang dimiliki untuk orang lain. Tapi Naya percaya, ia akan belajar berdamai dengan hati dan pikirannya.

Naya percaya, Allah akan selalu menjaga perasannya, agar bisa ikhlas menerima setiap ketetapan yang diberikan padanya. Hatinya sudah merasa kuat menghadapi setiap ketentuan-Nya.

“Naya….”

Panggilan itu membuat Naya terkejut seketika. Ia tak menyangka jika Aditya akan berada tepat di belakangnya.

Naya yang sempat melihat Aditya dan Viona, memilih berbalik dan meninggalkan mereka yang tengah menikmati sisa senja di teras belakang rumah. Tapi ia tak menyangka, jika Aditya ternyata sudah berada di belakangnya, sebelum ia berhasil melangkahkan kaki untuk menjauh.

Aditya berjalan mendekat. Kini ia sudah berada tepat di hadapan Naya, menatap dengan pandangan heran. Naya hendak melangkah pergi, ketika tangan Aditya berhasil mencekal lengannya.

“Kau mau kemana, Sayang?” tanya Aditya seraya mendekatkan wajahnya.

Naya salah tingkah. Ia mencoba menata perasaannya yang tak menentu.

“Aku mau ke kamar, Mas,” ucap Naya asal.

Aditya memahami tingkah Naya. Diraih pipi istrinya, lalu ditatap dengan dalam kedua mata itu. Dengan lembut, Aditya menjentikkan jari tepat di ujung hidung Naya sembari tersenyum.

“Seja kapan kau mengintip di balik tirai?” tanya Aditya tanpa basa-basi.

Naya makin kikuk. Ia merasa malu sudah ketahuan. Tapi ia tak bisa lagi menghindar. Pipinya merona merah. Tak bisa lagi berbuat apa-apa selain menundukkan kepalanya.

Aditya mengangkat dagu Naya, menatapnya sesaat, kemudian mencium pipi istrinya dengan gemas.

“Kau tampak lucu dengan tampang seperti itu,” ucap Aditya membuat Naya tersipu.

Naya tak bisa berkata apa pun. Ada debaran yang kian menggetarkan dadanya. Jika saja Aditya bisa mnlendengarnya, mungkin ia aka semakin merasa malu.

“Aku bisa merasakan debaran di dadaku, Sayang.” Aditya mengulum senyum menggodanya.

Naya menatap lekat wajah suaminya. Bagaimana ia tahu perasaannya kini?

Aditya kembali mendekatkan wajahnya.

“Aku sangat merindukanmu, Sayang,” bisik Aditya tepat di telinga Naya.

Wajah mereka tak berjarak. Hanya embusan napas yang mencoba Naya tahan, mengimbangi sesuatu yang seakan ingin berloncatan dari dalam dadanya.

Aditya menatap lekat wajah Naya yang hanya terdiam. Ia mencari dalam kedua mata istrinya, apakah rindu itu pun dirasakannya juga?

Aditya menemukan jawabannya. Rasa itu pun tengah menguasai perempuan yang begitu dicintainya.

Naya masih bergeming, kala Aditya merengkuhnya dalam pelukan. Kedua netra Naya berkaca-kaca. Ia pun sangat merindukan Aditya. Tapi entah kenapa, lidahnya serasa kelu, bibirnya tak dapat berucap apa pun.

Sebulan ini, ia begitu mengacuhkan suaminya. Demi Viona bisa bersama Aditya. Ia mengorbankan perasannya. Menahan rindunya. Memendam rasa sakitnya.

Di ambang pintu belakang, untuk kesekian kalinya, Viona menyaksikan itu. Melihat Naya dan Aditya yang tengah berpelukan penuh cinta. Ia menyadari, jika suaminya itu selalu punya banyak waktu untuk menghujani Naya dengan segenap cintanya.

Walaupun sebulan ini, ia sudah begitu dekat dengan Aditya, tapi tetap saja, hati dan pikiran lelaki itu, selalu untuk Naya. Tak ada tempat untuk Viona di hati Aditya. Karena di sana, hanya ada nama Naya yang selalu tersimpan indah.

Cintanya untuk Naya tak pernah berubah. Sekuat apapun Viona berusaha keras dan bersabar, tetap saja, takkan bisa meraih hati yang sudah terpaut hanya untuk belahan jiwanya itu.

Viona hanya sebatas istri yang mengandung anak Aditya. Ia hanya bayang-bayang dari harapan terciptanya tangis bayi dalam rumah Aditya dan Naya.

**

Bersambung…

Korumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.