Sang Bidadari (22)

Sang Bidadari (22)

Kabar kehamilan Viona sebulan kemudian, membuat Aditya syok. Ia tak menyangka, jika malam itu, mampu membuat benihnya berhasil tertanam dalam rahim Viona. Ia menyesal, kenapa hal itu tak terjadi saja pada Naya.

Aditya sempat frustasi. Dunianya sudah berbeda kini. Kisah cintanya bersama Naya sudah tak semurni dulu lagi. Ia lebih memilih tinggal di apartemennya. Ingin menenangkan diri, itu alasannya pada Naya.

Naya memahami apa yang terjadi pada suaminya. Ia mengerti kondisi Aditya setelah kejadian malam itu. Ia tak pernah menyalahkan siapa pun. Baginya, Aditya tetaplah suami yang dicintai sepenuh hati.

Seminggu lamanya Aditya tinggal di apartemen. Naya mulai gelisah. Ia tak biasa berjauhan dalam waktu yang lama dengan suaminya. Apalagi, kondisinya yang berbeda saat ini.

Meskipun Aditya selalu mengabari keadaannya, tapi hati Naya tak bisa tenang. Ia meminta suaminya untuk segera pulang. Sayangnya, Aditya menolak. Ia masih ingin sendiri. Naya merasa bersalah. Ia tak bisa berdiam diri saja.

Naya memutuskan untuk menyusul suaminya ke apartemen. Dengan kunci cadangan yang dimiliki, Naya mencoba memasuki apartemen. Hari sudah beranjak siang saat ia sampai di sana. Sepi.

Mungkin suaminya masih di kantor. Naya pun menunggu Aditya pulang sembari merebahkan diri di atas sofa.

Entah pukul berapa saat tiba-tiba sebuah tangan mengangkat tubuh Naya dan menggendongnya. Naya mengerjai. Kedua netranya perlahan terbuka, dan tamoaklah sosok lelaki yang selama seminggu ini begitu dirindukannya.

“Mas….”

Aditya merebahkan tubuh Naya di atas tempat tidur kamar.

“Kenapa kau tidak tidur di sini?” tanya Aditya seraya duduk di sisi pembaringan.

“Aku tadi menunggumu pulang, hingga tak terasa sampai ketiduran di sofa.”

Diam sesaat. Aditya terlihat menyugar rambutnya.

“Aku rindu padamu, Mas,” ucap Naya tanpa malu-malu. Kedua netranya sudah berkaca-kaca.

Naya memang sangat merindukan suaminya. Ia merasa, apa yang terjadi pada Aditya adalah kesalahan terbesarnya. Membuat Aditya dalam situasi sulit dan kondisi yang tak pernah diinginkannya.

Air merembes di kedua pipi Naya yang sedikit tirus. Aditya melihat itu. Ia menggeleng. Tak rela jika Naya sampai menangis. Hatinya terasa lebih sakit melebihi sakit yang dirasakan istrinya.

Segera dihapusnya air mata yang sudah berderai itu. Naya tertunduk dalam kegundahan hatinya.

“Aku juga sangat merindukanmu, Sayangku.”

Naya mendongak. Ditatapnya wajah Aditya lekat. Wajah yang agak pucat, tak ada riak bahagia terpancar di sana. Mata itu pun tak seceria biasanya. Naya semakin terluka.

“Maafkan aku, Mas, ampuni aku,” isak Naya seraya meraih tangan Aditya, lalu menciumnya.

“Jangan berkata begitu, Sayang. Aku takkan sanggup melihatmu terluka.”

Aditya meraih tubuh ringkih istrinya. Menarikmya dalam pelukan, dan membiarkan tangis itu tumpah di dadanya. Aditya ikut menangis pula.

Selama beberapa saat, mereka tenggelam dalam rasa. Terhanyut dalam derita yang menerpa. Mereka tak menyalahkan takdir, tapi sebagai manusia biasa, mereka punya luka yang mampu menggores hati, mereka punya rasa sedih yang ingin dituangkan.

**

Aditya bersedia pulang dengan satu syarat, Viona harus pindah rumah. Awalnya Naya kurang setuju, apalagi kini Viona tengah mengandung. Tapi setelah mendengar penjelasan Aditya, akhirnya Naya bisa menerima.

“Selama ini, kita hidup berumah tangga hanya berdua. Takkan baik hubungannya, bila ada orang ketiga tinggal dalam satu rumah bersama kita. Alangkah lebih baik, bila Viona tinggal terpisah dari kita. Dia bisa tinggal dengan ibunya. Aku akan membelikannya sebuah rumah.”

Begitu penjelasan Aditya. Naya bisa memahami maksud suaminya. Ia setuju, dan akan membicarakannya dengan Viona.

Viona merasa bahagia dengan kembalinya Aditya ke rumah. Meski ia belum bisa diterima suaminya, tapi setidaknya, ia bisa melihat lelaki yang akan menjadi ayah dari anak yang tengah ia kandung.

“Kau harus belajar untuk bisa memperhatikan Viona, Mas. Dia tengah mengandung anakmu. Dia dan bayinya berhak mendapat perhatian darimu.”

Aditya terdiam. Ia enggan menanggapi, tapi tak kuasa menghindar. Naya selalu bisa mengambil hatinya dengan cara yang unik, hingga membuatnya merasa tak enak hati.

“Aku mohon, Mas, bagaimana pun, bayi itu tak berdosa, ia berhak mendapat perhatian dari ayahnya. Lakukanlah, setidaknya untuk bayimu,” lanjut Naya meratap.

Aditya tak pernah tega dengan permohonan istrinya. Walaupun permintaan itu bukan untuk dirinya sendiri, kepedualian yang diperlihatkan, selalu membuat Aditya luluh. Hingga anggukkan kepala yang mewakili.

Naya tersenyum senang. Setidaknya, kini Aditya bisa belajar untuk bisa lebih memperhatikan Viona dan bayinya, karena mereka berhak mendapatkan itu.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.