Sang Bidadari (21)

Sang Bidadari (21)

Sejak Viona dinyatakan hamil, perhatiannya memang lebih besar ia curahkan pada Viona. Apa pun kebutuhannya, ia pastikan selalu bisa terpenuhi. Itu semata ia lakukan karena Viona tak pernah mendapatkan perhatian dari Aditya.

Kasihan Viona. Di saat istri-istri lain hamil, tentunya perhatian dan kasih sayang dari orang terdekat yang paling dibutuhkan. Sementara Viona, untuk mendapatkan itu dari suaminya, masih jauh dari harapan.

Itulah sebabnya, Naya mengambil alih semua kebutuhan Viona, agar ia tak merasa kekurangan. Ia ingin menjaga bayi dalam kandungan Viona agar tetap aman, tak pernah merasa diabaikan.

Naya pun sadar, sebagian waktunya sudah ia curahkan untuk Viona. Ia terkadang mengabaikan keperluan suaminya, disaat Viona tengah membutuhkannya. Jika sudah begitu, Aditya hanya bisa menghela napas panjang. Berlalu pergi sambil mengurut dadanya. Kesal.

Namun Aditya tak pernah bisa marah pada Naya. Saat kekesalan masih bersarang dalam hatinya, kehadiran Naya selalu mampu meluluhkan kemarahan yang menguasai.

Apalagi jika Naya sudah mengurai senyum termanisnya, Aditya tak bisa berlama-lama mendiamkan Naya. Ia hanya bisa mencubit hidung mungil istrinya dengan penuh cinta. Menghujaninya dengan ciuman yang membuat Naya pun bagai melayang.

Tanpa Aditya sadari, Naya pun selalu merindukan setiap waktunya hanya berdua bersama suaminya. Seperti sebelum Viona hadir dalam rumah tangganya.

Meski setiap saat, Naya bisa mereguk kemesraan bersama Aditya, tapi kini ia bukanlah milik Naya seutuhnya. Ada perempuan lain yang juga berhak atas suaminya. Ada Viona yang harus ia jaga perasaannya.

Terlebih lagi, Viona kini tengah mengandung anak dari suaminya. Ia yang lebih berhak mendapatkan perhatian lebih. Tapi, ia pun tak bisa memaksa Aditya yang belum tersentuh cinta untuk Viona.

Terkadang Naya bimbang. Pantaskah ia bahagia di atas penderitaan Viona yang tak pernah dianggap suaminya? Jika sudah begitu, Naya tak bisa membendung perasaannya.

Naya tak bisa berkompromi dengan bulir-bulir air mata yang tiba-tiba saja sudah menggenang di kedua netranya.

Naya merasa serba salah. Di lain sisi, ia ingin memiliki cinta Aditya seutuhnya. Tapi di sisi lainnya, ia pun tak mau menyakiti perempuan, yang juga berkorban perasaan hanya untuk menikah dengan suaminya.

Aditya membuka matanya saat merasa ada yang hangat membasahi pipinya. Ia melihat Naya menangis, tengah menatapnya sendu.

Aditya melonggarkan pelukannya. Diraih tubuh Naya hingga menghadapnya. Disentuh pipi yang sudah basah, dan dihapusnya perlahan dengan jemari tangannya. Aditya tak ingin bertanya. Ia tak mau membuat Naya semakin terluka.

Sesungguhnya, Aditya memahami perasaan Naya. Ia tak pernah ingin membuat Naya bersedih. Tapi, bukankah ini semua keinginan Naya? Aditya justru merasa, dirinyalah sebagai korban.

Ia harus membagi statusnya sebagai suami pada istri yang sama sekali tak pernah dicintainya itu. Bahkan kehamilan Viona pun tak pernah diinginkannya, jika saja malam itu, Naya tak pergi dari rumah.

Malam itu, tiga bulan setelah pernikahannya dengan Viona, seperti biasa, Naya hanya ingin tidur di kamar bersama Naya. Tapi, Naya tak ada di sana. Hanya sepucuk surat yang mewakili ketiadaan Naya. Ia pergi ke rumah orang tuanya.

Aditya kecewa dengan sikap istrinya itu. Sebenarnya, demi siapa ia berkorban? Demi dirinya sendiri, suami ataukah orang lain?

Hujan turun dengan derasnya. Kilatan petir semakin menyemarakkan suasana malam yang semakin larut. Aditya menggigil. Biasanya, di saat hujan turun seperti ini, Naya akan menemani dengan membuatkan secangkir wedang jahe.

Mereka melewati malam dan hujan dengan berbincang-bincang di kamar, dan berakhir dengan pelukan sepanjang malam.

Aditya yang tengah gundah, dikejutkan oleh kehadiran Viona di kamarnya. Ia membawakan secangkir wedang jahe hangat. Perempuan itu duduk di samping Aditya, memberikan cangkir itu pada suaminya.

Aditya tak menolak. Ia menerima cangkir itu, lalu meminumnya. Rasanya sama seperti yang biasa dibuat Naya. Ia seolah merasakan kehadiran Naya di kamar itu.

Aditya benar-benar tak sadar, jika perempuan yang ada di sampingnya malam itu adalah Viona. Sentuhan lembut Viona telah mengalahkan egonya. Kekecewaannya terhadap Naya, seolah menjadi pelampiasan atas apa yang dilakukannya pada Viona.

Malam itu, menjadi saksi bisu antara penyatuan dua insan, yang menjalani pernikahan tanpa berlandaskan cinta.

Bagi Viona, kebahagiaan terbesarnya mendapat perlakuan yang sudah semestinya ia dapatkan sejak tiga bulan yang lalu.

Bahagia bagi Viona, tapi tidak dengan Aditya. Ia merasa marah dan kecewa. Hatinya terluka. Seharusnya ia bisa menjaga egonya sebagai seorang lelaki.

Di tempat lain, Naya pun tengah merintih perih. Hatinya serasa berdarah-darah. Air matanya sudah tak bisa terbendung lagi. Istri mana yang rela mengizinkan suaminya untuk bersama perempuan lain.

Meski kehadiran Viona adalah keinginannya, tapi ia belum bisa mengikhlaskan sepenuhnya Aditya dimiliki perempuan lain. Tapi, ia tengah belajar untuk merelakan kenyataan.

Walau hatinya teriris perih, ia mencoba kuat menahan luka yang mengoyak hatinya. Demi mertuanya agar bisa memiliki seorang cucu. Demi suaminya agar bisa memiliki keturunan sendiri. Naya rela berkorban demi orang-orang yang dicintainya.

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.