Sang Bidadari (20)

Sang Bidadari (20)

Tujuh purnama terlewati dalam ayunan langkah. Meretas mimpi mengisi lakuna yang tak bertepi. Mencipta asa yang masih berserak dalam resah yang melanda. Sendiri.

Naya tertegun di balik jendela yang tertutup tirai. Kedua netranya terpejam, menahan rasa cemburu yang masih saja bersarang dalam hatinya.

Naya tak kuasa menahan pedih melihat kemesraan Viona dan suaminya. Hatinya teriris perih meski tujuh bulan telah berlalu.

Sejak Viona dinyatakan hamil lima bulan yang lalu, Aditya memutuskan untuk membelikan Viona sebuah rumah untuk ditinggali bersama ibunya. Ia lakukan itu agar hubungannya dengan Naya tetap harmonis.

Sejak Viona menempati rumah barunya, Aditya jarang sekali datang ke rumahnya. Kalau pun mengunjungi, itu pasti bersama Naya.

Ada perasaan tak enak hati melihat perlakuan suaminya terhadap Viona. Bagaimana pun, perempuan itu adalah istri Aditya. Sudah seharusnya ia memperhatikan Viona, terlebih lagi saat ini, ia tengah mengandung anaknya.

Naya meminta Aditya untuk mengizinkan Viona sering datang ke rumah mereka. Awalnya Aditya bersikeras menolak, ia tak ingin kebahagiaan bersama Naya terusik dengan kehadiran Viona.

Namun, akhirnya Aditya pasrah dengan permintaan Naya. Lagi-lagi, ia tak pernah bisa menolak keinginan istri tercintanya itu.

Hari ini, Viona datang berkunjung. Tentu saja, itu permintaan Naya. Ia ingin Viona tetap merasakan kehadiran dan perhatian Aditya, meski untuk diperhatikan, Viona memerlukan waktu dan kesabaran.

Naya memberikan ruang untuk Viona bisa mendekati suaminya. Viona berhak mendapatkan haknya sebagai seorang istri, setidaknya saat dirinya tengah hamil kini.

Naya mencoba menahan rasa yang hendak tertumpah lewat kedua netranya. Ia tak ingin Aditya mau pun Viona tahu akan kepedihan hatinya. Selama ini, ia sudah berhasil menyembunyikan luka dari semua orang.

Tampak Viona tengah bergelayut manja pada lengan suaminya. Aditya masih saja terlihat dingin. Hubungan mereka masih saja kaku. Walau kini benih Aditya sudah tumbuh di rahim Viona, tetap saja, Aditya masih tak bisa merasakan bahagia.

Ketika Viona dinyatakan hamil, orang tua Aditya begitu bahagia, tapi tidak dengan Aditya. Ia hanya menanggapi kabar itu, dingin.

“Kau tidak senang aku hamil anakmu, Mas?” tanya Viona saat menyaksikan suaminya hanya tersenyum kecut, lalu asyik kembali memainkan gawainya.

“Senang,” jawab Aditya singkat, masih bergeming.

Naya yang menyaksikan itu, hanya bisa membujuk Viona agar tak memedulikan sikap Aditya.

“Mulai sekarang, kau harus lebih fokus pada kehamilanmu. Kau tak boleh lelah, harus banyak asupan makanan yang bergizi,” ujar Naya sambil mengelus perut Viona dengan lembut.

Viona mengulum senyum.

“Iya, Mbak, aku akan menjaga dengan baik kandunganku ini,” ucap Viona seraya meoleh pada Aditya yang masih asyik memainkan gawainya.

Viona menarik napas panjang, membuangnya perlahan, kemudian berlalu menuju dapur.

“Kau mau apa, Vi?” tanya Naya, bergegas menyusul Viona.

“Aku mau masak opor ayam, Mbak. Tiba-tiba aku ingin makan opor ayam.”

Naya tersenyum. Rupanya Viona tengah ngidam.

“Tidak usah, biar aku saja yang akan membuat opor ayam untukmu.”

“Jangan, Mbak, biar aku saja yang membuatnya. Aku tak mau merepotkanmu.”

“Aku tidak merasa direpotkan, Vi. Aku akan senang melakukannya untukmu dan calon bayimu.”

“Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Mbak.”

Naya menanggapi dengan senyum tulusnya.

Detik kemudian, Naya tengah asyik dengan kegiatannya meracik bumbu opor ayam.

Viona hanya menyaksikan kesibukan Naya selama beberapa saat. Setelah itu, ia melengos pergi. Kepala Viona agak sedikit pusing, itulah sebabnya ia lebih memilih merebahkan tubuhnya di kursi sofa, yang tak jauh dari tempat Aditya duduk.

Sekilas, Aditya melihat dengan ekor matanya ke arah Viona, yang tampak bersantai sembari memejamkan mata.

Perlahan Aditya bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menuju dapur. Di ambang pintu, ia melihat istri yang begitu dicintainya itu tampak sibuk memasak.

Aditya menghampiri Naya yang tak menyadari kehadirannya. Ketika ia berdiri tepat di belakang Naya, kedua tangannya dilingkarkan, memeluk perut Naya yang masih terlihat ramping.

Seketika Naya memekik kaget mendapat perlakuan yang tiba-tiba. Aditya menopang dagunya di bahu istrinya itu. Naya tersipu, pipinya merona dengan kehangatan yang diberikan suaminya.

“Bagaimana aku bisa memasak, jika kau terus memelukku seperti ini, Mas.”

Sejujurnya, dalam hati Naya, ia sangat bahagia. Meskipun suaminya telah memiliki istri yang lain, tapi cintanya untuk Naya tak pernah berubah. Perhatian Aditya selalu tercurah untuknya, masih sama seperti dulu.

Bahkan, seringkali Aditya menampakkan kemesraannya di setiap sudut rumah. Ia tak peduli jika ada orang lain yang melihat. Ia hanya ingin, cintanya selalu tercurah untuk Naya, sama seperti saat ia belum menikahi Viona.

Jika sudah begitu, terkadang Naya malu sendiri. Ia sadar, kini tidak hanya mereka berdua dalam rumah itu. Ada perasaan Viona yang harus ia jaga. Naya tak ingin membuat Viona merasa bukan siapa-siapa di rumah itu.

“Tolong jangan seperti ini, Mas, aku harus memasak,” ujar Naya lembut. Napasnya menguar tepat di wajah Aditya.

“Biarkan seperti ini. Aku selalu ingin memelukmu setiap saat,” bisik Aditya tepat di telinga Naya, membuat perempuan itu merinding.

“Iya, Mas, tapi tidak sekarang. Aku harus memasak opor ayam untuk Viona.” Naya berdalih. Mencari alasan agar suaminya melepaskan pelukannya.

“Kau lebih mementingkan perempuan itu ketimbang aku?” tanya Aditya masih memeluk Naya.

“Bukan begitu, Mas. Tapi Viona ingin makan opor ayam. Aku sudah janji membuatkan untuknya.”

“Sejak Viona hamil, sepertinya perhatianmu begitu besar padanya. Aku seperti tersisihkan. Aku pun butuh perhatianmu, Sayang,” ucap Aditya merajuk.

Kali ini, Naya sekilas melirik wajah suaminya. Tampak mata itu terpejam rapat, begitu dekat dengan wajahnya. Naya seketika merindukan wajah itu.

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.