Obrolan Petang – Bagian 11

Obrolan Petang – Bagian 11

Kali ini, tanaman di halaman rumah Aki Rahmat bertambah. Bukan hanya tomat dan cabai yang berderet  tumbuh subur dalam polybag. Kini ditambah dengan dua polybag berisi bibit pohon jeruk lemon yang tadi pagi dibelinya dari tukang bibit keliling. Rencana Aki Rahmat, kedua pohon jeruk lemon tersebut, petang ini akan dipindahkannya ke sudut halaman. Tidak lagi dalam polybag, tetapi akan ditanamnya langsung di tanah.

Seusai salat asar, Aki mulai menyingsingkan lengan bajunya. Diambilnya cangkul dari gudang di belakang rumah. Di sudut kanan dan kiri halaman depan rumahnya dia buat lubang yang diperkirakan cukup untuk menanam bibit lemon tersebut. Setelah menaburi kedua lubang itu dengan pupuk kandang, yang juga dibelinya dari tukang bibit tadi, satu per satu bibit lemon itu diletakkan di masing-masing lubang.

“Bismillah,” Aki Rahmat merobek polybag tempat bibit lemon itu. Dengan hati-hati diambilnya polybag tersebut. Tinggallah bibit lemon beserta sedikit tanah dan sekam yang menjadi media tumbuhnya selama dalam polybag. Dengan cangkulnya, Aki memasukkan sedikit demi sedikit tanah galian lubang tadi. Setelah selesai, disiramnya kedua penghuni baru halaman rumahnya itu dengan gembor.

“Alhamdulillah …” Aki menatap puas tanaman barunya itu. “Tumbuh subur, dan cepat berbuah, ya!” Lanjutnya sambil sedikit menyentuh satu pohon lemon yang baru ditanamnya itu.

“Tanaman baru, Ki?” Tiba-tiba Mang Kardin menyapa dari seberang pagar.

“Iya, Mang,” menoleh ke arah Mang Kardin. “Tadi pagi ada tukang bibit lewat. Si Ambu tertarik untuk membeli bibit lemon ini. Katanya biar tidak perlu beli jika perlu lemon.” Aki menjelaskan.

“Ooh, begitu ya, Ki? Memangnya untuk apa lemon itu nantinya, Ki?” Mang Kardin terlihat penasaran.

“Ooo… Lemon ini banyak sekali kegunaannya, Mang. Bisa untuk bumbu dapur, untuk dibuat minuman segar atau campuran teh, bisa juga untuk obat,” papar Aki.

“Banyak juga ya kegunaan lemon. Mamang baru tahu. Mamang kira hanya untuk hiasan saja,” manggut-manggut.

“Sini Mang, kita duduk-duduk sambil menikmati udara sore,” ajaknya sambil membersihkan tangan dan kakinya dengan air dari keran di sudut halaman.

Mang Kardin menghampiri.

“Ayo, Mang! Kita ngobrol-ngobrol,” ajak Aki sambil menuju teras.

Keduanya duduk di tempat biasa.

Ambu melongok dari pintu. “Kirain ada tamu dari mana,” katanya sambil tertawa.

“Eh, Ambu. Iya nih … tamu tak diundang,“ timpal Mang Kardin sambil tertawa.

“Sebentar ya, Mang. Ambu ambilkan minuman dulu,” tanpa menunggu jawaban, Ambu masuk ke dalam rumah.

Aki Rahmat dan Mang Kardin melanjutkan obrolan yang tadi tertunda.

“Tiap pagi, Ambu tuh selalu membuatkan perasan lemon. Makanya, pas tadi lihat ada yang jual bibitnya, langsung deh beli,” Aki membuka kembali obrolan.

“Begitu ya, Ki? Pakai gula minumnya, Ki?” Tanya Mang Kardin.

“Tanpa gula, Mang. Lemon asli. Hanya ditambahi air hangat saja. Tapi kalau batuk, dicampur dengan kecap saja,” jawab Aki.

“Tidak asem, Ki?” Mang Kardin penasaran.

“Ya, asem. Asem banget. Tapi karena sudah biasa, ya tidak masalah,” Aki menjelaskan.

Ambu Rahmi muncul dari pintu sambil membawa dua gelas minuman hangat di atas baki.

“Silakan minum teh lemon hangatnya, Mang,” meletakkan gelas dekat Mang Kardin. “Ini gelas, Aki,” lanjutnya sambil meletakkan satu gelas lainnya di dekat Aki Rahmat.

“Terima kasih, Ambu. Jadi merepotkan Ambu terus, he … he…,” kata Mang Kardin.

“Tidak juga, Mang. Kebetulan sedang ada yang bisa disuguhkan. Jika tidak ada, ya … tidak disuguhi,” sahut Ambu Rahmi sambil masuk ke dalam rumah.

 “Silakan cicipi, Mang!” Aki mempersilakan Mang Kardin minum. “Bagaimana rasanya, Mang?” tanyanya setelah Mang Kardin menyeruput teh lemon bagiannya.

“Mantap, sangat segar, Ki,” mengacungkan jempol. “Tapi ini kan pakai gula ya, Ki?” tanyanya kemudian yang dijawab anggukan Aki Rahmat. “Nah, kalau yang tiap pagi Aki minum kan tanpa gula, apa tidak membuat perih ke lambung?” Tanyanya lagi.

“Ya tidak lah, Mang. Meskipun asem, lemon tidak mengiritasi lambung. Justru mengobati sakit lambung,” menyeruput minumnya. “Bukan hanya airnya Mang, kulitnya juga sangat kaya manfaat. Menurut informasi yang beredar akhir-akhir ini, kulit jeruk, ya … termasuk jeruk lemon ini, bisa juga menangkal virus corona,” papar Aki Rahmat.

“Begitu ya, Ki? Dibagaimanakan tuh kulitnya?”Mang Kardin penasaran.

“Direndam dengan air hangat juga bisa, Mang. Iris saja lemonnya, lalu masukkan dalam air hangat, lalu biarkan.” jawab Aki.

“Ooh … pantesan, mamang suka melihat tuh ada yang suka bawa botol minum, tapi di dalamnya ada irisan jeruk,” gumama Mang Kardin.

“Nah … itu yang disebut infused water. Tidak selalu dari jeruk lemon sih, bisa juga menggunakan buah lainnya atau sayuran. Tapi, banyak yang menggunakan lemon sebagai bahannya karena selain lemon itu kaya vitamin C, juga memiliki kandungan antioksidan yang berguna melindungi sel tubuh dari kerusakan. Air rendaman lemon itu juga bisa mendetok racun yang ada dalam tubuh kita,” Aki menjelaskan.

“Ooh… ternyata banyak sekali manfaat lemon ya, Ki. Kalau begitu, Mamang juga mau menanam pohon lemon ah. Biar bisa mendapat manfaatnya juga,” Kata Mang Kardin bersemangat.

“Bagus, Mang. Kita budayakan mengonsumsi bahan-bahan alami yang bisa kita tanam di sekitar rumah. Selain murah, juga sangat menyehatkan,” Aki memberi dukungan.

Matahari telah tenggelam. Mang Kardin melangkah menuju rumahnya diiring kumandang Azan magrib. ***

#RMG_obrolanpetang11_sinur

Rumahmediagrup/sinur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.