Anak Bertuah

::Anak Bertuah::

Ibu adalah obor keluarga. Semangat ibu adalah semangat keluarga. Saat obor redup maka redup pula suasana rumah dan penghuninya. Percaya tidak percaya itulah yang terjadi. Yang berjabatan ibu pasti tahu persis.

Pagi tadi saya terbangun dengan kondisi badan sakit untuk bergerak. Teringat saat lepas isya saya tertidur saking lelahnya seharian beraktivitas. Ditambah hari kemarin hanya tidur dua jam, karena serangan alergi lama timbul.

Perlahan menggerakkan tubuh ke kanan dan kiri sambil terus membaca doa. Akhirnya kaki ini mampu menjejak lantai. Pukul 03;23 dini hari saat saya melihat jam weker di atas meja. Waktu subuh masih agak lama.

Keluar kamar untuk melihat situasi rumah yang saya tinggal tidur lebih awal. Alhamdulillah lantai bersih, tak ada piring kotor menumpuk, galon sudah berganti. Heii siapa yang mengganti ya?
Apa ayahnya anak-anak pulang cepat tadi malam?

Setelah minum segelas air hangat, saya langsung menuju ke kamar mandi untuk berwudhu, meredakan syaraf-syaraf. Suasana sepi enak untuk berasyik dengan sang pencipta.

Namun tak dinyana, setelah selesai salat tubuh saya tak mampu menahan sakit di kepala. Saya pun tertidur kembali dan terbangun saat kumandang azan subuh.

Setelah anak-anak bangun, saya pun bertanya kepada sulung yang kelas enam.

“Bang, yang benahin cucian piring siapa?”

“Abang…”, katanya. Saya pun ber”Ooh..”

“Yang angkat galon?”

“Bude…dibantu Abang”

“Yang masak nasi malam tadi abang juga?”

Dia menganggukkan kepalanya.

Maasyaallah, bahagianya hati saya. Dia tahu ibunya tertidur karena lelah. Sorenya saya memang pulang dari terapi adiknya karena sering terjatuh dan posisi tubuh tidak imbang.

Bersyukur sekali sulung saya mau melakukan pekerjaan rumah. Saya memang mengajak anak laki-laki di rumah bukan hanya yang sulung untuk bisa melakukan pekerjaan rumah. Karena jika dalam kondisi tertentu seperti ibu atau istrinya nanti sakit, mereka tidak sungkan melakukannya.

Jadi teringat kata-kata nenek suatu ketika kepada saya, “Kau ni anak bertuah, semoga anak-anak kau nanti betuah semuanya”. Saya meng-aamiin-kan kata-kata nenek.

Segera saya peluk sulung kami yang usianya belum genap 12 tahun. Saya bisikkan lirih ke telinganya, “terima kasih ya Nak, semoga menjadi orang yang beruntung dalam hidup”


Alhamdulillah alaa kulli haal wa fii kulli haal.

Depok, 20042020

*bertuah: beruntung(bahasa melayu)

rumahmediagroup//fridaaulia

Satu respons untuk “Anak Bertuah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.