Jagalah Putri Kecilku, Yaa Allah (2)

Jagalah Putri Kecilku, Yaa Allah (2)

Dunia terasa hampa tanpa kehadiran tawa dan tangis putri kecilku yang tengah lucu-lucunya itu. Penantian menunggu buah hati selama kurang lebih dua tahun, penuh dengan tantangan dan perjuangan.

Kecemasan menghantuiku setiap saat. Bagaimana jika aku tak bisa memberikan keturunan untuk suamiku? Apa yang akan terjadi dengan rumah tanggaku bila tak ada kehadiran anak di tengah-tengah kami?

Pertanyaan-pertanyaan sinis dari ibu mertua dan keluarga suamiku, bagai hujaman belati di jantungku. Terasa menyesakkan. Hanya genggaman hangat suamiku yang selalu bisa menguatkan.

Bukan tak mau membantah, suamiku bilang, jika diam menjadi jawaban terbaik untuk menghindari masalah kenapa tak kita lakukan. Meski untuk itu kita membutuhkan kesabaran yang menjadi fundamental menghadapi berbagai macam cobaan yang menerpa. Kita pasti mampu melakukannya dengan selalu beristigfar.

Suamiku adalah sosok suami yang luar biasa. Kesalehannya yang telah meluluhkan hatiku, hingga cinta kami disempurnakan dalam ikatan suci pernikahan.

Waktu dua tahun mungkin bukanlah waktu yang sebentar untuk menantikan kehadiran buah hati. Akan tetapi, bagiku waktu selama itu merupakan ujian terbesar untukku dan suami.

Dambaan setiap pasangan yang sudah menikah adanya tawa dan tangis sang malaikat kecil. Aku harus menunggu dengan rasa sabar dan kekuatan yang selalu suamiku tunjukkan padaku.

Rupanya Allah rida untuk kami memiliki seorang anak. Hingga menginjak di awal tahun ketiga pernikahan kami, benih itu tumbuh di rahimku. Rasa syukur dan bahagia senantiasa menghiasi hari-hari kami menantikan kelahirannya ke dunia.

Tepat di pertengahan Oktober, tangis lantang keluar dari bayi mungil kami yang terlahir dengan kecantikan yang sempurna. Masya Allah, tangis haru dan bahagia seakan tak pernah sirna dariku. Akhirnya, aku sudah sempurna menjadi seorang perempuan.

Alhamdulillah.

Perkembangan Mia, putri kecilku yang jelita, menjadi pelengkap kehidupanku dan suami. Aku yang hanya menjadi ibu rumah tangga, tentunya totalitas memberikan kasih sayang dan perhatian untuk Mia.

Dalam setiap pertumbuhannya, kubekali dengan pondasi dasar berupa agama, seperti mengajaknya salat bersama, doa sehari-hari dan bacaan surat-surat pendek. Tak lupa pula, kuselipkan pendidikan formal seperti mengenal huruf dan angka.

Mia termasuk anak yang cerdas. Setiap apa yang kuajarkan padanya, ia serap dengan cepat. Aku bangga memilikinya dalam hidupku.

Namun, semua itu seakan hilang tatkala ia divonis positif Covid 19. Duniaku seakan luruh dari rasa bahagia. Hanya derai air mata mewarnai setiap detik hidupku. Suamiku yang kutahu menahan rasa sedihnya yang mendalam, selalu bisa lebih kuat dariku.

Hanya doa-doa yang tak pernah putus, selalu aku dan suamiku pajatkan untuk kesembuhan putri kecil kami, dan juga para penderita Covid 19 lainnya. Aku berharap, semoga virus yang tengah mewabah di seluruh dunia itu segera berlalu, dan kami bisa kembali menjalani kehidupan dengan tenang dan damai.

Oh, putri kecilku..
Semoga engkau tak bersedih hati di sana
Berjauhan dengan bunda dan ayah dalam kurun waktu yang entah sampai kapan
Bunda percaya, Mia anak yang kuat dan berani
Meski ini untuk pertama kalinya kita terpisah, tapi bunda berharap, Mia bisa menjalani hari-hari di ruang isolasi dengan riang gembira.

Bunda titipkan boneka panda kesayangan Mia beserta mainan-mainan yang biasa Mia mainkan di rumah. Semoga bisa mengisi rasa sedih dan bosan selama masa perawatan.

Mungkin Mia belum bisa memahami dengan apa yang terjadi pada Mia. Suatu saat kala Mia dewasa, pasti bisa mengerti , jika sakit yang Mia derita mengharuskan Mia diisolasi, disembuhkan dengan penangan khusus, dijauhkan dari orang-orang sehat, termasuk bunda dan ayah.

Maafkan bunda dan ayah, sayang. Bukannya kami tega tak menemani setiap detik waktumu. Tapi, kami memang tak boleh membersamaimu di sana. Baik-baiklah, sayang. Doa kami menyertaimu selalu. Semoga Mia kuat, segera disembuhkan dan segera dinyatakan negatif dari virus yang tengah mewabah itu.

Bunda titipkan Mia pada dokter-dokter dan para perawat di sana. Terutama, bunda titipkan Mia pada Sang Maha Kuasa, agar Dia senatiasa menjaga dan menguatkan Mia di sana. Segeralah sembuh ya, Sayang, bunda dan ayah sangat merindukanmu.

Dengan penuh cinta, bunda dan ayah.

Kutuliskan surat itu untuk Mia di ruang isolasi rumah sakit. Kutitipkan bersama boneka panda kesayangannya beserta mainan-mainan lainnya. Baju-baju yang selalu kuciumi setiap kali merindukannya, kubawa serta.

Dengan linangan air mata, kuberikan tas berisi perlengkapan Mia pada suster yang merawat Mia. Tak tahan dengan rasa sedih yang mendera, kulabuhkan diri di pelukan suamiku. Sempat kulihat ada genangan air di kedua netranya. Aku tahu, dalam hatinya menjerit perih, tapi tak ia perlihatkan.

Semoga Miaku segera sembuh.

**
Dua puluh tiga hari sudah aku terpisah dari Mia. Tanpa bisa melihat tawa maupun tangisnya. Dari cerita yang setiap hari suster sampaikan melalui pesan whatsaap padaku, Mia menunjukkan kondisinya yang membaik. Bahkan suster Arini, suster yang merawat Mia itu, dalam dua hari sekali mengirimkan video kegiatan Mia selama dalam masa perawatan.

Aku dan Mia tak bisa melakukan video call. Dikhawatirkan Mia akan menangis dan emosional. Hal itu bisa menurunkan imunitas tubuhnya. Dengan menahan rindu yang teramat dalam, aku dan suami hanya bisa menyaksikan video Mia dari layar gawaiku dengan bersimbah air mata.

Tepat di hari kedua puluh tiga ini, kabar baik itu datang. Dari hasil pemeriksaan yang kedua, Mia dinyatakan negatif dari Covid 19. Sujud syukur aku dan suami lakukan. Akhirnya, putri kecilku bisa pulang kembali ke rumah, berkumpul bersama kami lagi.

Aku dan suami tak sabar untuk menjemputnya di rumah sakit. Dengan prosedur yang cukup lama, akhirnya aku bisa kembali melihat sosok Mia yang agak kurus, duduk di atas kursi roda. Sejenak ia mematung, menatapku dengan heran.

Aku mendekatinya perlahan. Berjongkok tepat di hadapannya. Dengan menahan sesuatu yang hendak menyeruak dari dalam sini, kukumpulkan kekuatan untuk bicara dengannya tanpa rasa sedih.

“Mia Sayang, ini Bunda, Nak,” kataku dengan senyum terkembang.

Tangan Mia mengelus pipiku pelan.

“Bunda….”

Tangisnya pecah seketika seraya menghambur memelukku. Aku dengan sigap langsung memeluknya erat. Air mata yang sejak tadi kutahan, akhirnya tertumpah. Kami nikmati waktu selama beberapa saat dalam kerinduan yang tertuntaskan.

Suamiku yang sejak tadi berdiri tak jauh dari tempatku dan Mia, akhirnya membaur dalam pelukan yang selama dua puluh tiga hari ini tak kami rasakan. Alhamdulillah, Yaa Allah, terima kasih engkau telah mengembalikan Mia pada kami.

End

Sumber gambar : Pixabay

rumahmediagrup/bungamonintja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.