Dari “Daun Sirih” ke “Rumah Sakit” Hingga “Di Antara Dua Beda”

Dari “Daun Sirih” ke “Rumah Sakit” Hingga “Di Antara Dua Beda”

“Mama baca ceritamu yang di buku Suspense Episode, serem banget! Itu beneran ya?”
“Iya Ma. Waktu Mama masuk “Rumah Sakit” dan aku tidur di sana nemenin.”
“Hiiiyy! Jadi sedih mikirnya dulu. Kamu pasti repot ya Nak ngurusin semua sendiri, mana lagi kerja.”
“Enggak apa Ma.”

“Re, Mama ketawa sambil nangis baca ceritamu di I Finally Found Someone. Alhamdulillah Mama enggak salah milih mantu. Semoga kalian berdua rukun dan saling menyayangi hingga akhir hayat ya, Nak. Aamin.”

“Buku Kiat SehatHerbal nya buat Mama satu ya? Bagus isinya, banyak tips buat kesehatan.”

Mama saya bukan orang yang suka membaca buku. Di waktu senggangnya ia lebih suka bermain Sudoku. Permainan yang buat saya begitu njelimet. Hahaha!

Ia menjadi tertarik membaca ketika saya mulai menulis antologi dan menerbitkan satu demi satu buku saya. Menarik untuknya karena kebanyakan cerita yang saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi. Sebagai anak yang sejak lulus sekolah menengah sudah tinggal terpisah dengan orang tua, banyak bagian dalam hidup saya tidak diketahui Mama dan Papa. Maka membaca cerita-cerita pendek saya dalam antologi membuat perasaan mereka bercampur aduk.

Buku antologi pertama saya sukses membuat mereka tertawa terbahak-bahak mengetahui kerempongan saya mengurus si sulung. Kali ini 3 buku saya yang baru mendarat dengan mulus di rumah Mama, juga membawa kesan tersendiri baginya. Seram, sedih, haru, bahagia.

Ingin membacanya juga? Hubungi saya untuk Pre Order Diary Emak Rempong, Suspense Episode, I Finally Found Someone, dan Kiat Sehat Herbal ya. Capcus!

Much Love,

rumahmediagrup/rereynilda

The Journey (The Calling)

The Journey (The Calling)

“Yah, umroh yuk.”

“Nanti lah. Bukan sekarang.”

“When?”

“Tunggu panggilan.”

“Okay. Tapi panggilan juga mesti dijemput sepertinya.” Kataku dalam hati. Sedih, merana, karena begitu rindu melihat rumahNya kembali.

Kapan Kau akan memanggil kami ke rumahMu lagi, Ya Rabb? Tempat yang dulu begitu dekat denganku karena bisa setiap saat kudatangi tanpa berpikir atau pun ragu. Tiga belas tahun sudah berlalu sejak kali terakhir kali ku menyentuh batu hitam yang membuat perasaan haru biru.

Aku rindu.

Setiap pagi sejak keinginan itu begitu kuat muncul, kuputar siaran langsung ibadah dari Tanah Suci, streaming melalui internet. Setiap pagi tanpa jeda sambil berdoa dalam hati, memohon Ia memanggil kami kembali. Ku percaya bahwa kekuatan doa dan pengharapan akan membawaku kembali ke sana lagi. Entah kapan itu terjadi.

Hingga pada suatu hari, “Bunda, bagaimana caranya umrah? How do we do and proceed?”

Rasanya tak percaya dan hampir lompat kegirangan. Inikah “panggilan” itu Ya Rabb? Begitu cepatnya?

Malam itu juga seorang teman pemilik travel umrah kuhubungi. Darinya segala pertanyaan tentang ibadah ini kutanyakan tanpa ragu. Semua berlangsung begitu cepat hingga jadwal keberangkatan kami dapat.

Sebelum hari itu datang, setiap akhir minggu kami menghadiri semua kelas yang ada. Haus rasanya jiwa ini akan segala hal yang berkaitan dengan ibadah. Mata pun terbuka lebar akan banyak hal yang nyatanya ternyata selama ini tidak kuketahui. Belasan kali berumrah, dan sekali menunaikan ibadah Haji, rupanya bekalku belum cukup kala itu. Hanya sekedar pergi untuk melaksanakan kewajiban dan mengisi jiwa yang sempat kosong bahkan hilang.

Semua berawal di hari niat itu tersemat dalam hati dan menjaga laku diri, ujar sang Ustad yang membekali kami, para fakir ilmu ini. Semua berlaku hingga tiba kami berangkat untuk berserah diri. Semoga semua dapat dilalui, dengan ikhlas hati.

Jeddah … Makkah AlMukaromah.

Labbaik Allahumma Labbaik!

(Bersambung)

rumahmediagrup/rereynilda