Love Is

Love Is

“Kakak, beli apa tadi dengan kawan-kawan?”
“I bought drink only, Bunda.”
“Lho? Tak beli makan? Kan Bunda sudah kasih uang.”
“It’s okay. I was already full anyway. I just bought $1 drink. Hehe.”
“Huh?
Minum apa $1?”
“Water. Hahahaha!”
“Lah? Then what did your friends buy?”
“Anything. Drinks, foods.”
“Lho? Terus Kakak tak nak beli?”
“Tak nak. I didn’t want to eat anything. Save my money too. Hahahaha!”
“Terus? Where are your friends now?”
“They are going to the Arcade.”
“Huh? What time they’ll go home?”
“I don’t know. They can go home until late night.”
“Really? And you?”
“I have to go home before 5 pm right, Bunda?”
“Yes. Are you ok with it?”
“Yeah. I’m okay. My friends knew already that I can’t stay out late.”


Kadang saya tidak tega mendengar dua putri saya bercerita tentang bagaimana teman-temannya bisa dengan bebas jajan, bepergian, atau bermain gawai. Sementara mereka memiliki banyak batasan dan aturan di rumah.

Uang jajan terbatas, waktu bermain terbatas, memegang gawai pun terbatas. Semua ada aturan yang harus diikuti.

Namun saya juga paham, mereka mulai beranjak dewasa dan treatment saya pada mereka harus menyesuaikan juga. Saya tidak lagi bisa mengatur mereka seperti bagaimana saya mendidik Rayyan.

Kemarin saya mengantar Lara bertemu dengan teman-teman sekolahnya di suatu tempat. Saya juga membekalinya dengan sejumlah uang dan membebaskan ia untuk berbelanja. Lalu apa yang terjadi? Ia hanya menghabiskan $1 saja untuk membeli minuman. Katanya, tidak ingin menghamburkan uang jajan untuk hal yang tidak penting. Lebih baik disimpan dalam kotak tempat ia menabung sisa uang jajan mingguannya, seperti yang selama ini saya ajarkan. So proud of you, Kak!

Sambil menunggu Lara selesai hang out, saya berkeliling tempat itu dengan dua adiknya. Kemudian tepat pukul 4.30 sore, ia menelpon saya dan meminta saya menjemputnya. Sementara teman-temannya melanjutkan acara mereka ke tempat lain. Lara memilih untuk pulang bersama saya karena sudah berjanji sebelumnya akan kembali sebelum pukul 5. Keren ya dia? Hehe.

Segala aturan dan kebiasaan ini bukan sehari dua hari saya tanamkan. Sudah sejak mereka berusia dini, hingga berbuah manis sekarang. Tentu saja disertai banyak komunikasi dan dialog untuk saling bertukar pikiran. Saya juga menerangkan pada mereka alasan dibalik aturan yang saya terapkan selama ini. Beruntung mereka bertiga memahami, dan dengan senang hati bersedia mematuhi semua aturan yang saya dan ayahnya buat di rumah kami.

Walau terkadang timbul protes tapi saya percaya semua hal bisa dibicarakan. Karena itu, komunikasi memegang peranan sangat penting bagi kami berlima. Tidak boleh ada yang memendam sesuatu pada yang lain dalam diam, dan merasa baik-baik saja padahal tidak. Itu sebabnya saya bertanya pada Lara apakah ia menyetujui aturan yang saya buat untuknya. Putri kecil itu tersenyum seraya memeluk saya dan berkata, bahwa ia tidak apa-apa. Ia juga memahami maksud dan tujuan saya membatasi beberapa hal dalam hidupnya. Semua karena cinta.

A good relationship starts with a good communication, doesn’t it?

Much Love,