Remake – Reuse

Remake – Reuse

Beberapa kali mendaur ulang alias remake baju, sampai lupa ternyata saya dulu pernah mengubah sebuah overal celana berbahan katun menjadi gaun terusan, selain yang pernah saya buat dari bahan denim.

Bedanya kali ini tanpa menambah bahan karena model celananya memang sudah berbentuk cutbray. Saking lebar dan gedenya, Rayyan juga bisa masuk. Hahahaha!

Jadi, as easy as one two three, tinggal gunting dan jahit bagian tengah dan belakangnya, jadi lah sebuah dress baru yang sudah dilirik 2 putri saya. Modelnya juga memang masih heits dan tidak outdated padahal saya sudah merubah baju ini lama sekali sewaktu anak-anak masih kecil.

Kali ini, tinggal memadukannya dengan bolero pendek, cardigan panjang, atau jaket berhoodie seperti yang saya pakai ini. Cucok, kan?

Hmmm … mau remake baju apa lagi ya hari ini.

Much Love,

rumahmediagrup/rereynilda

Belajar Bahagia. Bahagia Belajar

Belajar Bahagia. Bahagia Belajar

Punya anak lelaki yang kelebihan energi seperti Rayyan memang lumayan membuat kepala pening. Sayangnya peraturan di rumah kami adalah membatasi penggunaan gawai pada anak-anak. Karena itu mereka butuh penyaluran energi. Padahal kalau ada gawai atau televisi kan gampang ya menyuruh anak-anak duduk diam?

Well, sayangnya kami harus mengajarkan mereka untuk disiplin dan juga tidak ingin mereka tumbuh menjadi remaja yang hanya menunduk atau disconnected dengan sekitar . Ya, menunduk dan menyendiri karena sibuk dengan gawai masing-masing atau terpaku menonton acara kesukaan di televisi.

Keterbatasan ini memang pada akhirnya mengharuskan mereka untuk menemukan cara lain sebagai pengisi waktu luang.

Si sulung biasanya mengisi waktu dengan menggambar atau bermain piano. Si Jutek biasanya memilih ke dapur membuat sesuatu atau juga menggambar seperti sang Kakak. Si Bungsu biasanya memilih untuk membaca bermacam-macam buku. Kemudian ia akan menghampiri saya dan bercerita tentang apa yang ia baca dengan bersemangat.

Pagi ini ia menghampiri saya dan bertanya apa yang bisa ia lakukan sebelum berangkat sekolah.

“What should I do now, Bunda?”

“Read your book, please.”

“I did. Can we play something together?”

Saya yang baru saja selesai mempersiapkan bekal anak-anak pun minta ijin untuk menyeduh secangkir kopi dulu. Kemudian menghampirinya di meja makan dengan membawa sebuah papan kecil permainan Scrabble.

Ia terlihat gembira dan sangat antusias bermain menyusun kata pagi tadi.

“Wow! What word are you building?”

“You’ll see.”

Kemudian saya membaca kata DEMOCRATIST yang disusunnya.

“Wow! That’s a big word, Rayyan.”

“I know right!”

Padahal mungkin arti dari kata itu pun ia tak paham. Hahahaha!

Saya berjanji untuk bermain Scrabble dengannya lagi sepulang sekolah nanti, dan setiap pagi sebelum ia berangkat. Mungkin sampai ia bosan dan memilih kegiatan lain sebagai pengisi waktu luang. Ia pun berangkat sekolah dengan wajah berseri dan kilat mata bahagia karena berhasil membuat sang bunda, yang selalu sibuk di pagi hari, untuk bermain dengannya.

Bermain sambil belajar, belajar sambil bermain, yang penting bahagia.

Oh well, selamat belajar di sekolah dengan bahagia, Nak!

Much Love,

rumahmediagrup/rereynilda