Hilang

Hilang

Puas bercengkrama dengan kawanan rusa di Ranca Upas, enam orang sahabat satu kampus, bermaksud melipir ke penginapan yang telah dipesan Indra di daerah Ciwidey, Bandung Selatan.

“Dra, Gimana kalau kita ke penginapan, gue lapar,” teriak Bismo pada Indra.

Mendengar Bismo kelaparan, sontak membuat Adi tertawa. “Et dah, Mo. Tadi kan, nyarap bareng gua. Itu mie telor kornet, Lo kemanain?” timpal Adi dengan logat betawinya yang kental.

“Dra, gue juga udah bosen. Pindah lokasi, yuk,” usul Karim, seorang penggemar fotography.

“Masih jam 9 pagi, Bro, belom bisa check-in.” Sambil memberikan wortel pada rusa yang datang menghampirinya, Indra memberi alasan.

“Coy, ada tempat keren, nggak jauh, Kawah Rengganis. Kita kesana, gimana?” tiba-tiba Armen berdiri mengajak teman-temannya.

Armen, Bilal, Adi, Karim dan Indra adalah lima sekawan yang memiliki jiwa petualang. Sementara Bismo adalah penggembira.

Indra memperhatikan temannya satu per satu yang tampak bosan. “Ya sudah, berangkat!”

Jarak menuju Kawah Rengganis hanya 10 km, dengan mengendarai mobil tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai.

“Men, mana kawahnya? nggak ada plangnya,” protes Bismo pada Armen, ketika hanya ada hamparan kebun teh sepanjang penglihatannya.

“Bismo, protes melulu. Sabar dikit atuh, kita tanya ke sana tuh, tukang ojek mangkal.” Kali ini Bilal bersuara memprotes Bismo yang tidak sabar

Setelah Indra memastikan kendaraannya aman, ia menuju pangkalan ojek. Selesai berbincang dengan para tukang ojek, ia menghampiri teman-temannya.

“Pren, kawahnya di balik kebon teh. Jadi, kita nanjak sekitar 1 Kilo. Nanti di atas ada area parkir khusus motor. Nah, kalau mau ke kawah, kita nyusurin tangga ke bawah,” Indra diam sejenak sebelum melanjutkan penjelasan, “yang mau ke atas pake ojek, ongkosnya 10 ribu. Kalau mau jalan, bisa juga lewat kebun teh.”

“Bismo, naik ojek aje. Ribet kite nariknya kalo tiba-tiba lo di tengah jalan kagak kuat nanjak,” komentar Adi

…..

“Bilal, Indra, stop! jangan gerak!” Karim berteriak pada Bilal yang berjalan paling depan, disusul Indra di urutan kedua. Sementara Adi dan Armen di belakang Karim.

Seekor ular belang melintas di depan mereka, lalu menghilang di antara rimbunnya pohon teh. Seketika mereka berlima terdiam. Ketika Bilal memastikan situasi aman, mereka melanjutkan perjalanan.

Di area parkir, terdapat warung-warung yang menjajakan makanan ringan, gorengan hingga mie instant bahkan kopi pun beraneka merk. Lima petualang sempat singgah di warung tempat Bismo menunggu.

“Pren, ayok, ke kawah,” ajak Indra.

“Bro, gue di sini aja. Nggak sanggup, ntar bisa turun nggak bisa naek, cuy. Gue udah liat, tangganya banyak beut. Gue naik ojek masih sport jantung ini.” Bismo menolak ajakan Indra

Lima petualang berjalan menapaki tangga menuju kawah. Mereka menikmati pemandangan uap panas berwarna putih keluar dari balik bebatuan. Bahkan di beberapa aliran air, ditemukan letupan-letupan seperti air mendidih.

Sejak turun tangga, tidak biasanya Armen diam tak bersuara. Ia juga berjalan tak selincah biasanya. Pria berambut gondrong itu hanya mengikuti jalur Indra dan Bilal, sementara Adi dan Karim yang menyusul asyik berfoto.

“Bro, ayo, ke atas sini, ada pancurannya di bawah pohon, adem. Sepi lagi,” panggil Adi ke Indra, Bilal yang baru akan mencelupkan kakinya ke kolam belerang.

Mereka pun menuju ke tempat yang dikatakan Adi. Ternyata ada dua pancuran yang dinaungi pohon. Di sekitarnya pun tidak ada pengunjung selain mereka berlima.

Sebelum bermain air, Indra, Adi dan Bilal meletakkan tas, sepatu dan barang bawaan di atas batu berlumut dekat pancuran. Indra menyentuh air pancuran, lalu mengumpat kaget. Ternyata airnya benar-benar panas. Tidak seperti air di kolam bawah. Sementara Armen hanya berdiri dekat pancuran Banyu Sakti.

Tak lama Indra, membuka bungkus rokok dan menyalakan sebatang. Ia menikmati suasana hingga tersisa puntung rokok.

“Dra, jangan buang sampah sembarangan.” Karim mengingatkan Indra, sebelum ia bergerak ke bebatuan di atas pancuran, ia sempat mengabadikan pancuran.

Sementara Adi, terlihat kembali berjalan menuju kolam belerang di bawah.

“Dra, bagi rokoknya,” pinta Bilal

“Ambil, di batu, deket tas gue.”

“Batu mana? Nggak ada.” Bilal kembali mencari, “beneran nggak ada!” tegasnya

“Lah, kok, hilang ….”

Bilal dan Indra saling menatap. Buru-buru mereka berkemas, mengajak Karim dan Armen untuk naik ke tempat Bismo.

Sesampainya mereka di warung, Bismo menghampiri dan segera mengajak pulang.

“Bro, pulang yuk, kata Mbak Warung, kabut sebentar lagi turun.”

Kali ini tidak ada yang berniat jalan kaki menuju parkir mobil. Bismo, Adi, Indra, Bilal dan Karim kompak naik ojek.

“Bro, Nggak ada yang aneh di kawah? Ternyata, disini banyak aura misterinya. Ada tempat ritual pemujaan. Bahkan ada makam yang di keramatkan,” cerita Bismo setelah sampai di mobil, “tadi gue diceritain penjaga warung.”

“Adi, rokok gue mana?” tegur Indra

“Yee … ngerokok aja kagak!” bantah Adi

Bilal dan Indra kembali saling menatap penuh tanya.

…….

“Bro, Armen ketinggalan!”

rumahmediagrup/gitalaksmi

2 respons untuk ‘Hilang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.